Archive for February, 2008

Peranakan Cina IDEALIS

Friday, February 1st, 2008

SAHABAT-SAHABAT PERANAKAN TIONGHOA, SELAMAT TAHUN BARU CINA! Oleh : G. Chen Chen Selamat Tahun Baru Cina! Gong Xi Gong Xi ! Gong Xi Fa Chai ! Menyongsong Tahun Baru Cina, saya sebagai seseorang yang bangga masih berdarah Tionghoa, merasa prihatin dengan beberapa hal yang saya amati di kalangan kaum peranakan Tionghoa selama bertahun-tahun ini : 1. Saya belum pernah menyaksikan sendiri maupun melihat di media massa (kecuali pesta perkawinan saya sendiri) adanya pesta perkawinan pemuda-pemudi keturunan Tionghoa dengan pakaian tradisional bergaya Cina, baik pakaian adat peranakan Tionghoa, pakaian bergaya Manchuria, maupun pakaian bergaya Cina-modern! Mengapa kita lebih bangga dengan mengenakan pakaian pengantin bergaya Eropa? 2. Saya masih merasa khawatir mendengar masih adanya perlakuan diskriminasi dari kedua belah pihak, baik keturunan Tionghoa maupun Pribumi kepada satu sama lain, terutama di dalam kehidupan bermasyarakat, dan di dalam perusahaan-perusahaan. Akar-akar rasisme di kedua belah pihak masih timbul secara sembunyi-sembunyi. Ini adalah bahaya laten, sadarlah, hapuslah dengan segera kehendak-kehendak untuk mendahulukan kepentingan golongan ras yang tidak objektif dan tidak rasional ini!

Mengenang sosok-sosok berikut sebagai Peranakan Idealis (menurut Haji Junus Jahja dan saya tambahkan sendiri), maka sebaiknya kaum peranakan Tionghoa mengikuti jejak mereka sekiranya sungguh-sungguh ingin dianggap sebagai warga Indonesia sejati! (Satu Hal yang memprihatinkan, disini semua yang disebut adalah kaum lelakinya, Kemana Kaum Perempuan Peranakan Tionghoa?) 1. Lie Eng Hok (1893-1961) : Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI 2. Kwee Hing Tjiat (1891-1939) : Pencetus Ide Asimilasi, Ide Putra Indonesia Sejati 3. Haji Karim Oei (1899-1985) : Pengusaha Sukses Yang Ikut Mencerdaskan Rohani Anak-anak Bangsa 4. Tan Tjeng Bok (1899-1985) : Seniman Tiga Zaman 5. Kwee Thiam Hong (1910-1997) : Ikut Berikrar Setia Dalam Sumpah Pemuda 1928 6. Biyanti Kharmawan (1906-1980) : Ekonom Internasional 7. Liem Koen Hian (1896-1952) : Ketua Partai Tionghoa Indonesia Yang Berikrar Menjadi Orang Indonesia Sejati 8. Tjoa Sik Ien (1907-1987) : Pejuang Kemerdekaan, Pejuang Asimilasi 9. Injo Beng Goat (1904-1962) : Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat 10. Dokter Oen Boan Ing (1903-1982): Dokter Yang Penuh Pengabdian & Merakyat 11. Prof Dr Tjan Tjoe Siem (1909-1978) : GURU BESAR SASTRA JAWA 12. Ferry Sie King Lien (1933-1949) & dr. Tjia Giok Thwan : Pahlawan Gerilya 13. Kho Ping Hoo (1926-1994) : Pengarang Cerita Silat Terkemuka 14. Tan King Gwan (1932-2001) : Thomas Cup 15. P.K Ojong (1920-1980) : Pendiri Kompas, ”Garis Rasial Garis Usang” 16. Siaw Giok Tjan (1914-1981) : Pejuang Kemerdekaan dari P.K.I 17. John Lie (1911-1988) : Menerobos Blokade Belanda 18. Yap Thiam Hien (1913-1989) : Pejuang Hak Asasi manusia 19. Soe Hok Gie (1942-1969) : Sang Demonstran Pembela Rakyat 20. Tjung Tin Jan (1919-1994) : Indonesia Bukan Amerika 21. Tan Bun Aan (1918-1989) : Sang Pemikir Masalah Peranakan & Hoakiau 22. Oei Jong Tjioe (1907-1985) : Penasehat Bung Hatta 23. Haji Masagung (1927-1996) : Pengusaha Toko Buku Terkemuka Yang Ikut Mencerdaskan Bangsa 24. Yap Tjwan Bing (1910-1988) : Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia 25. Teguh Karya (1937-2001) : Sutradara Film-film Bermutu Tambahan dari saya : Ong Hock Ham (wafat tahun 2007): Salah Satu Bapak Sejarawan Modern Indonesia Beberapa Peranakan Idealis yang mengisi kemerdekaan sebagai orang Indonesia Sejati : - Haji Junus Jahja (Lauw Chuan Tho) : Cendekiawan Yang Mencintai Indonesia - Wilson Candinegara : Sastrawan Berbahasa Indonesia dan Mandarin, Persatuan Penulis Yin Hwa, Yang Mencintai Sastra Indonesia Arief Budiman, Cendekiawan, Kakak Soe Hok Gie - Para Olahragawan Peranakan Tionghoa yang telah membawa harum nama bangsa Indonesia yang namanya terlalu banyak untuk disebut - Leo Suryadinata, Penulis. Ayahanda Tercinta… DR ABDUL HADI WM, yang tak pernah menyebutkan keTionghoaannya, tetapi selalu menyebut dirinya Orang Madura… SASTRAWAN, BUDAYAWAN, & CENDEKIAWAN…keturunan Peranakan Tionghoa Muslim dari Madura. Mengenai Sejarah Budaya Peranakan Tionghoa Muslim ini ditulis pertamakali oleh Sejarawan Ong Hok Ham Pada tahun 1968. Berikut ini adalah tulisan saya sendiri sebagai ”orang dalam.” PERANAKAN TIONGHOA MUSLIM DI PASONGSONGAN, PANTAI UTARA MADURA Oleh : G. Chen Chen Madura adalah sebuah kawasan yang terletak di sebelah timur laut kota Surabaya, di sebelah selatan Laut Jawa dan sebelah utara Selat Madura. Kawasan ini meliputi seluruh daratan Pulau Madura dan juga pulau-pulau kecil yang terdapat di sekitarnya, seperti Pulau Saputi, Raas, Sapeken, Sapudi dan Kangean. Kawasan ini terbagi dalam empat wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sebagai masyarakat yang menetap di sebuah kawasan maritim, yang dikelilingi oleh lautan, masyarakat Madura pada dasarnya cenderung memiliki budaya maritim. Pantai Utara Madura yang letaknya strategis dalam jalur perdagangan maritim tentu saja mendapatkan pengaruh budaya maritim yang tidak sedikit. Di dalamnya tinggal juga para pedagang dan imigran asing yang kemudian menikah dengan penduduk setempat, membaur dan membentuk komunitas baru yang telah mengalami akulturasi. Para pendatang ini adalah orang-orang Tionghoa, Arab, Pakistan dan termasuk pula etnis-etnis lain dari Kepulauan Nusantara, seperti etnis Jawa. Sesungguhnya masih belum banyak tulisan-tulisan yang membahas keberadaan para pendatang asing ini, yang di dalamnya termasuk komunitas peranakan Tionghoa Muslim yang berada di pesisir pantai utara Madura, persisnya di dua kecamatan yang bertetangga yakni Pasean dan Pasongsongan. Masyarakat ini adalah suatu komunitas yang sudah tak terlihat lagi sebagai suatu komunitas keturunan asing, tetapi bagaimana pun juga masih meninggalkan bekas-bekas kebudayaan pendahulunya yang telah terakulturasi dan terasimilasi dengan baik. Masyarakat ini memang terdapat dalam jumlah yang relatif kecil, tetapi keberadaannya cukup memberi arti bagi perkembangan masyarakat di sekitarnya. Sebagai pemeluk Muslim yang cukup taat, para imigran Tionghoa dan keturunannya tersebut dapat berbaur dengan baik dalam masyarakat pribumi Madura Muslim yang juga taat, yang umumnya adalah nelayan dan petani. Pembauran yang telah berlangsung selama hampir dua abad ini telah dapat terlihat pada hari ini, ketika mereka sudah dianggap sebagai orang Madura sendiri. Faktor agama yang dipeluk oleh kedua etnis ini tidak disangsikan lagi sebagai salah satu faktor penting dalam mempercepat dan mendorong pembauran yang terjadi. Sehari-harinya masyarakat ini telah menjalani hidup sebagaimana orang-orang Madura lainnya, meskipun memiliki mata pencaharian, taraf hidup, gaya hidup dan hal-hal tertentu lainnya yang berbeda dengan masyarakat pribumi Madura pada umumnya. Dalam penggunaan bahasa, hal yang demikian dapat terlihat dengan jelas. Mereka telah menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa interetnis mereka sehari-hari, meskipun masih terdapat istilah kekeluargaan yang bersumber dari bahasa Tionghoa. 2.1 Latar Belakang Geografis Madura Pulau Madura terletak di sebelah timur laut Pulau Jawa, yakni di antara 113º-115º Bujur Timur dan 6,5º-7,5º Lintang Selatan. Ketinggian tanahnya rata-rata kurang dari 500 m di atas permukaan air laut. Kecamatan Sepulu di Kabupaten Bangkalan merupakan daerah terendah dengan ketinggian sekitar 2 meter di atas permukaan air laut, sedang daerah tertinggi yakni Kecamatan Pakong di Kabupaten Pamekasan, sekitar 350 meter di atas permukaan laut. Pulau Madura merupakan daerah dataran tinggi dengan luas sekitar 4450 km persegi yang terdiri atas Dati II Kabupaten Bangkalan sebagai daerah terluas dengan luas kira-kira 1233,78 km persegi, Dati II Kabupaten Sampang seluas kurang lebih 1233,02 km persegi, Dati II Pamekasan dengan luas 792,30 km persegi sebagai daerah terpadat, tersempit dan ibukota keresidenan, serta Dati II Sumenep dengan luas 1147,24 km persegi. Pulau Madura tidak memiliki gunung berapi maupun sungai yang lebar yang efektif untuk pengairan. Oleh karena itu, keadaan tanah di Pulau Madura sangat tandus. Tanah di wilayah pedalaman sampai di bagian utara agak liat dan berwarna kuning kecoklat-coklatan. Iklim Pulau Madura termasuk dalam iklim tropis, dengan curah hujan rata-rata 136, relatif lebih sedikit daripada curah hujan di Pulau Jawa. Temperatur rata-rata antara 24º-31º C. Keadaan geografis di empat kabupaten di Pulau Madura rata-rata tidak jauh berbeda. Di sepanjang pantai utara terdapat 12 kecamatan dari keempat kabupaten yang ada. Kecamatan-kecamatan tersebut diri dari Klampes, Sapuluh, Tanjung Bumi yang termasuk dalam Kabupaten Bangkalan, dan Banyuates, Kedungdung, Sokabana yang termasuk dalam Kabupaten Sampang, serta Batu Marmar dan Pasean dalam Kabupaten Pamekasan, juga Pasongsongan, Ambunten, Dasuk dan Batu Putih dalam Kabupaten Sumenep. 2.2 Latar Belakang Sejarah Datangnya Imigran Tionghoa-Muslim ke Pasongsongan Tidak banyak sumber yang dapat menjelaskan tentang latar belakang datangnya para imigran Tionghoa-Muslim ke pantai utara Madura pada abad ke-19 M kecuali dari sumber lisan, yakni cerita turun-temurun mengenai asal-usul nenek moyang mereka dan daftar silsilah, serta pengetahuan umum kita tentang Sejarah Negeri Tionghoa. Sebagai suatu bangsa yang besar dan memiliki sejarah peradaban yang telah berusia ribuan tahun, bangsa Tionghoa telah memiliki hubungan dengan banyak bangsa-bangsa di dunia. Masuknya Islam di Tionghoa sendiri sudah terjadi sejak abad ke-9 M. Di Kanton sendiri sudah terdapat pemukiman masyarakat pedagang Muslim pada masa itu. Sementara itu Dinasti Ming yang pernah lama berkuasa di Tionghoa pada abad 13-14 M, yang merupakan keturunan Mongol, telah memiliki hubungan yang amat akrab dengan agama Islam semenjak Jengiz Khan dan keturunannya berjaya menguasai wilayah Dinasti Abbasiyah pada abad 13. Masyarakat peranakan Tionghoa-Muslim yang berada di Pasongsongan dipercayai telah datang dari Daratan Tionghoa sejak pertengahan hingga akhir abad ke-19. Mereka datang bersama sejumlah besar keluarga mereka, yang sebagian lainnya juga mendarat dan menetap di Palembang dan sekitarnya. Mereka adalah para penduduk minoritas Tionghoa-Muslim yang bermata pencaharian sebagai pedagang, berada di wilayah Yunnan maupun Fujian dan Kanton yang mengungsi dari keganasan Perang Candu yang berlangsung pada tahun 1839 dan 1856 M. Hal ini dapat dilihat bahwasannya pada umumnya dialek yang mereka adalah dialek Hokkian yang digunakan di wilayah Yunnan dan Fujian, serta sebagian kecil berdialek Kantonis, dialek yang digunakan di Kanton. Beberapa di antara mereka misalnya memiliki marga Goh dan Tan dengan nama-nama Tionghoa dialek Hokkian, seperti Goh Ban Seng, salah seorang kakek buyut penulis. Komunitas ini pada mulanya masih menerapkan sistem kekerabatan unilateral atau patrilineal, yakni menarik garis keturunan dari pihak ayah. Ini misalnya terlihat pada tradisi pewarisan marga. Meskipun sistem ini telah menutup kemungkinan bagi kaum perempuannya menikah dengan komunitas di luar mereka, tetapi bagi kaum pria kesempatan menikah dengan wanita di luar komunitasnya terbuka lebar. Kaum pria dari komunitas ini bebas memilih pasangan hidup dari luar komunitas di luar meskipun jumlahnya amat kecil. Kecendrungan ini semakin marak pada pertengahan abad ke-20, ketika sejumlah pria menikahi putri-putri bangsawan Jawa yang berasal dari tempat-tempat jaringan bisnis mereka. Semenjak itu pula semakin banyak anggota kerabat ini yang menikah dengan para priyayi dan bangsawan Jawa, baik di kalangan pria maupun perempuannya (yang mungkin kebebasan ini agak sedikit terlambat). Mereka juga hidup berkelompok, tepatnya terutama di sepanjang jalan raya utama kecamatan Pasongsongan dalam rumah-rumah besar dalam arsitektur dan interior perpaduan gaya Tionghoa, Jawa dan Eropa abad 19 M. Dengan status sosial tersebut mereka dapat memperoleh pendidikan yang cukup tinggi. Tak sedikit dari mereka yang telah menerima pendidikan Eropa dan dapat berbahasa Belanda, Jerman dan Jepang dengan baik. 2.3 Sistem Mata Pencaharian Hidup Masyarakat Peranakan Tionghoa Muslim di Pasongsongan sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang, seperti berdagang kelontong, kain, makanan dan bahan makanan, hasil perkebunan dan sebagainya. Mereka memiliki jaringan bisnis hingga ke Pulau Jawa, dari Surabaya hingga Surakarta dan Jogjakarta. Sebagian yang lain bekerja sebagai guru, pegawai pemerintah dan swasta, serta juga menjadi juragan nelayan, yang memiliki banyak perahu untuk disewakan. Dengan mata pencaharian ini, mereka memiliki status sosial yang cukup tinggi di kalangan penduduk setempat. Mereka menempati rumah-rumah besar dan memiliki banyak harta di dalam dan di luar kecamatan. Mereka dapat mempekerjakan para penduduk setempat yang berada dalam golongan bawah baik sebagai pembantu rumah tangga maupun pembantu dalam pekerjaan dagang mereka. Namun demikian sejak akhir abad ke-20 kedudukan mereka sudah sedikit berbeda daripada kedudukan sebelumnya. Oleh karena kemampuan mereka yang lebih dibandingkan kebanyakan penduduk pribumi, mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke Pulau Jawa, suatu kawasan penting sebagai pusat pendidikan di Indonesia. Banyak dari anak-cucu mereka kemudian bermukim di luar Pulau Madura, seperti Surabaya, Jakarta dan Bandung – meninggalkan kampung halaman mereka yang tandus itu. Sejak itu pula perdagangan di wilayah tersebut tidak lagi terlalu mereka kuasai. 2.4 Sistem Perlengkapan dan Peralatan Alat Produksi, senjata, wadah, pakaian dan perhiasan yang mereka miliki pada umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dimiliki oleh penduduk pribumi, meskipun telah dimodifikasi akibat akulturasi. Hal ini misalnya dapat terlihat dalam wadah-wadah dan perabotan yang mereka buat dan miliki, memiliki perpaduan gaya Tionghoa dan Madura, yang terlihat pada ukiran naga dengan warna-warna merah dan emas. Di samping itu juga mereka memiliki sejumlah wadah dan perabotan dari marmer. Perabot-perabot antik yang mereka miliki ini memiliki harga yang cukup tinggi sampai hari ini. Pakaian dan perhiasan yang mereka gunakan pada prinsipnya juga merupakan perpaduan antara gaya Tionghoa dengan Madura, dengan gaya Madura yang lebih kental. Perempuan menggenakan kebaya dan kain dengan perhiasan emas dan giok. Sementara para pria mengenakan pakaian yang telah mendapat pengaruh dari Eropa seperti kemeja, jas dan celana pada kesempatan-kesempatan tertentu, dan pada kesempatan lainnya mengenakan pakaian yang dikenal sebagai “pakaian sakerah ” , yaitu pakaian rakyat biasa dengan kaos loreng merah putih, celana dan kemeja hitam terbuka serta sabuk berkantong warna hijau. Pada pakaian tradisional mereka itu, bagi kaum laki-laki dilengkapi beberapa batang rokok lintingan dan receh yang diselipkan pada sabuk hijau di pinggang, serta tak lupa dilengkapi juga sebuah senjata. Senjata ini adalah clurit yang diletakkan di belakang, seperti halnya keris juga diletakkan di belakang. Di Madura, selain clurit, keris juga merupakan barang pusaka penting sebagai bukti pengaruh kebudayaan Jawa. Clurit dapat berfungsi sebagai sabit. Di Madura, memang tanahnya kurang begitu baik untuk ditanami padi dsb. Clurit juga berfungsi sebagai alat mempertahankan diri, sebagaimana fungsi senjata-senjata lain. Bagi orang-orang Madura,merupakan kewajiban melindungi keluarga dan kehormatan keluarga mereka. Clurit juga merupakan salah satu simbol ke-Madura-an mereka, sebagaimana keris merupakan salah satu simbol bagi orang Jawa. Clurit juga kadang kala dianggap memiliki kekuatan magis, seperti halnya keris. Sering sebuah clurit tidak diperkenankan untuk dipajang begitu saja karena ditakutkan dapat mencelakakan penghuni rumah sendiri. Dengan tumbuh dan berkembangnya dunia pariwisata sekarang, maka fungsi clurit juga menjadi bertambah sebagai suvenir yang menarik, selain cambuk-cambukan, patung kerapan sapi dsb. Bagi orang Madura, peran clurit ini sangat penting artinya. Clurit dapat bermakna sebagai orang Madura itu sendiri. Peralatan, perlengkapan maupun perhiasan yang masih menunjukkan adanya pengaruh Tionghoa yang kuat adalah bahan-bahan hias yang terdapat pada makam-makam mereka. Ini misalnya dapat terlihat dari keramik-keramik Tionghoa yang dipasang di sekeliling batu nisan, yang harganya relatif tinggi. Sayang sekali pada saat laporan ini dibuat keramik-keramik berwarna-warna terang dan cerah khas Tionghoa itu sudah tak terdapat lagi akibat pencurian. 2.4 Sistem Kemasyarakatan (Organisasi Sosial) Masyarakat peranakan Tionghoa Muslim di Pasongsongan adalah masyarakat dengan kultur pedagang. Namun demikian, mereka tidak terlalu banyak terlibat dalam organisasi dagang, kecuali jaringan dagang antar sesama peranakan Tionghoa baik di Madura maupun di Pulau Jawa serta baik yang muslim maupun non-Muslim. Velum ada bukti-bukti bahwa pada awal abad 20, misalnya, mereka terlibat dalam Sarekat Islam. Satu-satunya organisasi sosial pada awal abad 20 yang sangat jelas sekali menunjukkan keterlibatan mereka adalah organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah, di mana mereka termasuk sebagai pelopor pendirian Muhammadiyah di tengah-tengah masyarakat pribumi yang cenderung tergolong dalam Islam tradisional. Dengan demikian, di antara mereka juga terlibat dalam partai politik Islam seperti Masyumi pada awal zaman kemerdekaan, sementara pada orde baru mereka cenderung tidak terlibat dalam partai manapun meskipun lebih mendukung PPP, sedang pada orde reformasi ini mereka terpecah kepada dua kekuatan, yakni PPP dan PAN. Namun demikian, sebagai komunitas etnis minoritas dengan agama mayoritas, masyarakat peranakan Tionghoa-Muslim ini tidak memiliki suatu sistem kemasyarakatan sendiri yang berbeda, sebaliknya mereka bergabung dan membaur dalam sistem kemasyarakatan masyarakat pribumi Madura yang telah ada. 2.5 Sistem Agama dan Kepercayaan Dari sekitar 3 juta penduduk Madura (hasil registrasi tahun 1993), 99%nya beragama Islam. Dengan demikian, maka mayoritas penduduk Madura beragama Islam, termasuk di dalamnya tentu saja masyarakat peranakan Tionghoa-Muslim di Pasongsongan. Sejak mereka mempelopori berdirinya organisasi sosial Muhammadiyah di wilayah tersebut, maka paham pembaharuan yang dianut oleh warga Muhammadiyah, otomatis juga mereka anut. Misalnya, mereka tidak menyelenggarakan acara tahlilan dan mereka juga menjalankan sholat tarawih 11 rakaat. Mereka pun tidak membiasakan ziarah ke makam pada bulan Ramadhan dan hari raya. Mereka memiliki kompleks makam sendiri yang dibangun dengan batu-batu nisan sederhana. Selain itu pula, akibat dari kultur Muhammadiyah tersebut, mereka cenderung tidak tertarik pada kepercayaan takhayul seperti kekuataan magis dan krenik lainnya. 2.6 Sistem Bahasa Pada awal datangnya imigran Tionghoa-Muslim ke Pasongsongan, mereka tentu saja menggunakan bahasa ibu mereka, yakni Dialek Hokkian, dan sedikit pengaruh Dialek Kantonis. Namun demikian sejak generasi kedua dan selanjutnya mereka telah pun menggunakan bahasa Madura. Penggunaan bahasa Madura sebagai sarana komunikasi di antara mereka lama-kelamaan berlangsung terus-menerus, sehingga melenyapkan penggunaan bahasa ibu mereka. Diperkirakan sejak pertengahan abad ke-20 hanya generasi tua saja yang dapat berkomunikasi dalam dialek Hokkian. Generasi kelahiran Orde Lama dan seterusnya tidak lagi dapat berbahasa Tionghoa dan tidak memiliki nama Tionghoa lagi. Bahasa Madura adalah suatu bahasa yang digunakan oleh etnik Madura dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana perhubungan antaretnik di Pulau Madura dan pulau-pulau sekitar. Bahasa inilah yang menjadi bahasa sehari-hari warga peranakan Tionghoa Muslim di Pasongsongan dengan pengaruh Tionghoa khususnya dialek Hokkian dalam istilah-istilah tertentu. Bahasa yang mereka gunakan ini sampai saat laporan ini ditulis masih ada, dipakai, bahkan dipelihara dan dipertahankan demi kelestariannya. Untuk keperluan studi linguistik, bahasa Madura sudah banyak dipelajari dan dikaji oleh para linguis. Bahasa Madura terdiri dari empat macam dialek yakni dialek Bangkalan, Pamekasan, Sumenep dan Kangean. Bahasa Madura yang digunakan di Pasongsongan, yang letaknya di perbatasan Kabupaten Pamekasan dengan Kabupaten Sumenep merupakan bahasa dalam dialek antara Pamekasan dan Sumenep yang cenderung lebih kuat dialek Sumenepnya, yang intonasinya memiliki ritme yang memanjang, atau lebih tepatnya antara dialek Sumenep dengan dialek Tengah-Selatan . 2.7 Sistem Kesenian Masyarakat peranakan Tionghoa-Muslim di Pasongsongan pada dasarnya tidak memiliki suatu sistem kesenian tersendiri yang terpisah dari sistem kesenian masyarakat pribumi Madura. Hal ini mungkin juga karena dipengaruhi oleh sistem mata pencaharian dan sistem agama dan kepercayaan mereka. Pada seni pertunjukan tradisional, hadrah, pencak silat, karapan sapi dan tari topeng banyak diminati oleh mereka. Dalam seni rupa, seperti seni lukis kaca, seni ukir dan pahat baru lebih tampak penanda Tionghoa yang khas. Sementara itu dalam seni sastra, misalnya, mereka lebih dipengaruhi oleh bahasa Melayu-Indonesia. Dalam hal ini mereka telah melahirkan salah satu penyair internasional yang bangga dalam identitas Madura. Demikian pula dalam seni musik, mereka juga memiliki alat musik tradisional seperti alat musik tradisional Madura, di samping sebagian yang lain juga mahir memainkan alat-alat musik modern seperti biola, gitar, dll. 2.8 Tradisi Perkawinan Penanda Tionghoa yang tampak jelas pada masyarakat peranakan Tionghoa-Muslim ini juga terlihat pada adat-istiadat perkawinan, seperti pada adat ngunduh-mantu. Dalam tradisi yang boleh dibilang unik ini, para pengantin akan mengalami serangkaian upacara. Salah satunya adalah upacara memperkenalkan pasangan pengantin ke seluruh penduduk desa. Dalam upacara ini para pengantin akan diarak keliling desa, yang mana pengantin perempuan akan berada dalam tandu yang diangkat oleh sejumlah pria, sementara pengantin pria menunggang kuda. Arak-arakan ini amat mirip dengan arak-arakan pengantin Tionghoa. Bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih, maka pesta ini akan berlangsung selama beberapa hari, menampilkan hiburan gratis bagi para penduduk baik dalam bentuk seni tradisional maupun modern. Di pelaminan, para pengantin akan mengenakan sejumlah pakaian. Pertama-tama adalah pakaian yang mendapatkan pengaruh Jogjakarta, yang serba terbuka. Kedua adalah pakaian pengantin bangsawan Madura dengan warna-warna khas Tionghoa. Sistem Bahasa dalam Kehidupan Sehari-hari dan Kekerabatan Masyarakat Peranakan Tionghoa Muslim di Pantai Utara Madura 3.1 Wilayah Pakai Bahasa Wilayah pemakaian bahasa Madura yang digunakan oleh para anggota masyarakat peranakan Tionghoa Muslim Madura berpusat di Pulau Madura, yakni khususnya di Pasongsongan, Pasean, dan sekitarnya. Di luar Madura, bahasa ini juga digunakan oleh masyarakat peranakan Tionghoa Muslim Madura yang banyak berada di Surabaya, Bandung dan Jakarta. 3.2 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Bahasa Madura yang digunakan oleh masyarakat peranakan Tionghoa Muslim merupakan salah satu bahasa daerah yang terdapat di Indonesia. Bahasa ini dipakai sebagai sarana komunikasi antarwarga peranakan Tionghoa Muslim tersebut. Mereka yang lahir pada abad 20 telah tumbuh dalam identitas dan kebanggaan daerah Madura, bukan lagi pada identitas Tionghoa. Sebab itulah fungsi bahasa ini pun sama dengan masyarakat etnik Madura yakni sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah serta sebagai sarana perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah. 3.3 Tingkat Tutur Bahasa Bahasa Madura sebagai bahasa daerah yang dipakai oleh orang-orang Madura, termasuk di dalamnya peranakan Tionghoa Muslim, yang berbeda tingkat sosialnya dalam masyarakat, dibedakan pemakaiannya atas tiga tingkatan tutur (level of speech) seperti pada bahasa Jawa dan Sunda, yang dalam bahasa Madura disebutkan sebagai : 1) Bhasa Enjaq-Iya (bàsa ênjàq iyà), yaitu jenis tingkatan tuturan yang umumnya dipakai oleh : a) Sesama teman yang sangat akrab dalam pergaulan sehari-hari; b) Orang-orang yang menempatkan diri pada status sosial ”tinggi” terhadap orang-orang yang dianggap berstatus sosial ”rendah”, misalnya dipakainya kata-kata ngakan ’makan’, mata ’mata’ dan cetak ’kepala’; 2) Bhasa Engghi-Enten (basa eNgi enten), yakni jenis tingkatan tuturan yang pada umumnya dipakai oleh: a) sesama teman yang berkedudukan sederajat; b) orang yang berkedudukan ”dituakan” terhadap orang yang dianggap muda, misalnya dipakainya kata-kata neddha ’makan’, maqrepat ’mata’ dan serah ’kepala’. 3) Bhasa Engghi-Bhunten (basa eNgi bhunten), yakni jenis tingkatan tuturan yang umumnya dipakai oleh a) sesama teman ”berstatus tinggi” atau sesama priyayi b) seseorang bawahan atau mereka yang ”berstatus rendah” terhadap orang yang ”berstatus tinggi”, misal dipakainya kata-kata adhaqar ’makan’, soca ’mata’ dan mostaka ’kepala’. Terhadap tingkat turu yang ada pada bahasa Madura tersebut ada yang membedakannya atas dua macam, yaitu: a) Bhasa Alos ’bahasa halus’, dan b) Bhasa Kasar ‘bahasa kasar’ Kata-kata seperti abhaduk ’makan’ dan ngakan ’makan’ termasuk dalam kategori Bhasa Kasar, sedangkan kata-kata neddha ’makan’ dan adhaqar ’makan’ masuk ke dalam Bhasa Alos. 3.4 Panggilan/Penyebutan dalam Sistem Kekerabatan Seperti yang telah penulis sebutkan pada bab sebelumnya, sistem kekerabatan masyarakat peranakan Tionghoa ini telah mendapat pengaruh sistem kekerabatan Madura dan Jawa yang bersifat bilateral, yang mengakui garis ayah maupun ibu. Meskipun demikian, diduga pewarisan marga masih berlangsung hingga pertengahan abad 20, marga-marga tetap diwariskan bagi garis keturunan ayah. Di samping itu mereka juga memiliki dua nama, yakni nama Tionghoa dan nama Islami yang dipengaruhi oleh bahasa Arab. Kebiasaan penamaan Tionghoa dan marga ini kemudian tidak lagi dipakai sejak Orde Baru. Sejak itu mereka memiliki nama beragam, baik nama Arab maupun nama Jawa sendiri. Berbeda dari bahasa Madura dengan tingkat tutur dan tingkat turunya, bahasa Madura yang digunakan dalam sistem kekerabatan masyarakat peranakan Tionghoa Muslim di Pasongsongan ini memilik kekhasan tersendiri. Kekhasan ini terdiri dari hal-hal berikut: a) Bahasa Madura digunakan menurut tingkat tutur dan tingkat turunya dengan baik dalam komunikasi dengan penduduk setempat b) Panggilan/sebutan dalam kekerabatan interetnis memiliki ciri khas sendiri c) Panggilan/sebutan untuk penduduk pribumi disesuaikan pada ketentuan yang terdapat dalam bahasa Madura d) Panggilan/sebutan bagi kerabat yang bukan peranakan disesuaikan pada asal kerabat yang bersangkutan, misalnya kepada nenek yang beretnis Jawa tetap mendapat panggilan eyang. Untuk dapat melihat gambaran yang lebih jelas lagi, kita dapat membaca tabel berikut ini (untuk sebutan yang dipengaruhi bahasa Tionghoa diberi bold): SEBUTAN UNTUK: BHASA ENGGI BHUNTEN BHASA ENJAQ-IYA BAHASA PERANAKAN TIONGHOA-MUSLIM Bapak Rama Eppak Kaè Ibu Ebu Embug Nyak Kakak lelaki Maq Kakak Engko Kakak perempuan Mbak Mbaq Tacik Adik Alek Alek Alek Kakek Aghung Emba Laki Engkong Nenek Aghung Emba Bini Emmak Paman (adik lelaki orangtua) Aman Paman Ncèk Bibi (adik perempuan orangtua) Bibik Bibik Bibik Pakde (kakak lelaki orangtua) Wak Oba’ Wak Bude (kakak perempuan orangtua) Wak Oba’ Wak Berbeda dengan peranakan Tionghoa di Jakarta, peranakan Tionghoa Muslim di Pasongsongan ini tidak menggunakan bahasa Madura dengan dialek Hokkian untuk menyebut jumlah uang . Sebaliknya, mereka menggunakan bahasa Madura dengan baik seperti berikut ini: 1. Sajempel untuk Rp. 1,- 2. Sagamik untuk Rp. 25,- 3. Saeket untuk Rp. 50,- 4. Sabidaq rebu untuk Rp. 60.000,- 5. Saringgit untuk Rp 2.50,- 6. Sariyal untuk Rp. 2,- Penggunaan bahasa yang juga mencerminkan ciri khas masyarakat peranakan ini terdapat pada panggilan yang terus tertempel hingga di batu nisan makam tempat mereka bersemayam untuk selama-lamanya. Panggilan ini terdapat dalam sejumlah batu nisan makam para kerabat pria, yakni setiap nama selalu diawali dengan inisial “K”, yaitu “Kae” yang berarti Bapak. Tidak terdapatnya panggilan demikian pada seluruh kerabat perempuan disebabkan mereka bukanlah peranakan Tionghoa, di antara mereka adalah perempuan setempat maupun perempuan Jawa, bahkan terdapat pula kerabat perempuan keturunan bangsawan Jawa. KESIMPULAN Masyarakat peranakan Tionghoa-Muslim yang hidup di Pasongsongan adalah suatu komunitas masyarakat minoritas yang memiliki keunikan dengan sejarah panjang yang boleh dikatakan sebagai suatu model masyarakat yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi yang berjalan dengan konflik amat minim, bahkan hampir tidak ada. Mereka hampir telah kehilangan identitas asal-usul mereka, tetapi justru bangga dalam balutan identitas Madura, tempat nenek moyang mereka pertama kali menetap dan beranak-pinak di sana. Mungkin, berbeda dengan masyarakat peranakan Tionghoa non-Muslim yang secara prinsip menganut agama yang berbeda, serta berbeda pula dengan masyarakat peranakan Arab yang meskipun Muslim tidak dapat disangkal masih dikungkung oleh kebanggaan akan leluhur mereka yang keturunan Nabi, keberadaan masyarakat peranakan Tionghoa-Muslim yang membuka diri lebih mudah diterima. Hal yang demikian dapat terlihat dengan jelas dalam sistem bahasa pada kebudayaan mereka. Sementara apabila kita melihat keberadaan masyarakat Tionghoa non-Muslim hari ini di hampir seluruh daerah Indonesia pada umumnya masih dapat berbahasa ibu mereka, dan apabila melihat keberadaan masyarakat Arab dan Pakistan misalnya juga masih tetap umumnya memakai nama-nama Arab dan Pakistan. Namun demikian, masyarakat Tionghoa-Muslim di Pasongsongan secara mengejutkan dapat dipastikan pada generasi kelahiran tahun 1940-an sudah tidak lagi dapat berbahasa ibu dan bahkan pada dasawarsa-dasawarsa sebelumnya bahasa ibu tersebut adalah bahasa eksklusif di kalangan mereka sendiri dan kepada relasi bisnis Tionghoa mereka lainnya, setelah hanya kurang dari seabad mereka berdiam di negara ini. Dari tabel panggilan atau penyebutan dalam sistem kekerabatan, kita dapat melihat bahwa pada satu pihak mereka masih memelihara tradisi penyebutan dalam dialek ibu mereka, sementara di pihak lain kata-kata yang mereka pakai untuk menyebut jumlah angka dan uang mereka sudah lama memilih penggunaan bahasa Madura. Di samping itu pula dalam memberikan nama-nama kepada anak-anak mereka, apabila pada dasawarsa awal mereka memiliki dua nama yakni nama Tionghoa dan nama Islam (atau Arab), dan pada dasawarsa-dasawarsa terakhir sebelum tahun 1940-an mereka masih memiliki dua jenis nama tetapi lebih cenderung dikenal dalam nama Arabnya, maka setelah tahun 1940-an itu mereka hanya memberikan nama-nama Arab saja – atau nama-nama Jawa bagi anak-anak dari pasangan berbeda etnis. Dengan demikan, maka dari makalah ini penulis dapat menyimpulkan, bahwa meskipun sistem bahasa dalam masyarakat Peranakan-Tionghoa ini memiliki campur-baur yang rumit, tetapi sesungguhnya memiliki fungsi, makna, struktur dan hierarkis yang jelas, teratur dan unik. Pertama, bahwasannya dalam komunikasi sehari-hari mereka memakai bahasa Madura dengan baik sesuai dengan tingkat tutur dan turunya, sebagaimana layaknya latar belakang mereka yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi dan menempati kedudukan social yang juga tinggi dalam masyarakat Pasongsongan pada umumnya. Kedua, dalam tujuan-tujuan tertentu yang bersifat sangat khusus, mereka memiliki aturan sendiri untuk menyebut/memanggil seseorang, baik kerabat mereka, non-kerabat mereka maupun kerabat mereka dari komunitas luar. Ketiga, bahasa Madura rupa-rupanya berfungsi baik dalam usaha pembauran mereka dengan masyarakat sekitar mereka sehingga mereka dapat diterima dengan baik. Keempat, dengan berfungsinya bahasa Madura ini, secara tidak sengaja bahasa Madura ini memberi makna tertinggi dalam identitas diri mereka, bahwa mereka adalah orang Madura. DAFTAR PUSTAKA Surani, Sri dkk. 1998. Geografi Dialek Bahasa Madura. Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Pusat.