2008, good bye

CATATAN TAHUN 2008: Seperti Sinetron-sinetron Da Ai TV

Kata-kata Master Cheng Yen pada akhir tahun 2008 yang tiba-tiba menghentak saya adalah kira-kira berbunyi begini: “Penuhi tanggungjawabmu/kewajibanmu sendiri, berbuat baik, maka bencana akan menjauh darimu.”

Keyakinan orang Buddha tentang reinkarnasi pada satu sisi, sebagai seorang Muslim, tidak dapat saya terima. Meskipun demikian, pada satu sisi yang lain, sebagai seorang anak manusia yang selalu berusaha berpikiran terbuka dan positif, mengingatkan saya pada sebuah buku tentang Siddharta Gautama yang bertahun-tahun lalu saya baca. Sebuah buku tua dan kumal dari Perpustakaan Universitas Sains Malaysia. Saya membacanya pada saat saya berumur kira-kira 14 atau 15 tahun. Sejak saat itu, saya pikir saya mulai terpengaruh. Sayangnya saya tidak ingat sama sekali judul, penerbit maupun pengarang buku tersebut. Satu-satunya yang saya ingat hanyalah buku tua itu menceritakan sejarah agama-agama besar yang pernah ada di muka bumi dan latar belakang pembawa agama-agama tersebut. Bahkan agama Majusi pun dibahas dalam buku tersebut. Termasuk pula kisah mengenai Siddharta Gautama serta ajaran-ajarannya. Dari buku tersebut, diceritakan bahwa beberapa ajaran Siddharta mengenai kehidupan manusia setelah kematiannya di dunia ini sama persis dengan ajaran Islam tentang surga dan neraka. Pengarang buku tersebut meyakini bahwa Siddharta adalah salah satu nabi – kendati ketika saya menyampaikan pendapat ini seorang kawan saya menolaknya karena Siddharta bukan berasal dari Timur Tengah – sama seperti ketika ustazah saya berpendapat, Alexander atau Iskandar Agung adalah salah satu dari ratusan ribu nabi “tidak wajib”. Karena itu ketika saya dewasa dan masuk jurusan sejarah saya bisa mengerti mengapa Hellenisme yang dibawa Iskandar Agung demikian sukses pada zamannya bahkan sampai hari ini masih tersisa pengaruhnya, tentu saja tanpa mengabaikan adanya mitos (karena saya tak bisa menyebutnya sebagai fakta) bahwa Iskandar Agung adalah penguasa yang kejam dan ambisius.

Saya merasa beruntung karena pada umur tersebut saya mengetahui tentang banyak agama di dunia, termasuk mengetahui adanya agama-agama baru seperti Baha’i yang disebut sebagai sempalan Islam dan Hindu. Ditambah lagi dengan pengalaman unik saya yang bersahabat dengan banyak pemeluk agama, dan lingkungan keluarga saya yang sangat pluralis, itu adalah pemicu dari pikiran dan perasaan saya yang amat terbuka pada awal mula perkenalan saya dengan Tzu Chi di awal tahun ini. Kendati saya sudah lama mengetahui adanya organisasi ini, tetapi melalui DaAi TV saya jadi lebih mengenalnya lebih dekat lagi. Dengan begitu, saya semakin yakin bahwa Siddharta Gautama juga adalah seorang nabi (entah itu golongan yang mendapatkan wahyu tetapi tidak wajib menyampaikannya, atau yang wajib menyampaikannya).

Kisah nyata di DaAi TV tentang pria yang tiba-tiba kaki dan tangannya lumpuh, mengingatkan saya pada sosok pelukis Ugo yang pernah mengantarkan saya pulang ke kontrakan saya di Jatinangor dari Bandung hanya karena dia merasa berterimakasih pada saya telah memberitahu letak sebuah ATM. Sebuah perjalanan selama 2 jam dengan mobil yang disupir Om Ugo, demikian saya memanggilnya, seorang pelukis yang lumpuh yang berjalan dengan kursi rodanya. Sosok semacam Kun San ternyata ada di dekat saya, itu membangkitkan kemalasan saya, mengapa orang lain bisa, saya tidak bisa? Selama ini saya begitu malas dalam melakukan banyak hal, termasuk malas mempelajari hal-hal baru. Saya tidak pernah bersungguh-sungguh untuk belajar mengemudi, misalnya, juga tidak pernah mempelajari hal-hal lain yang sama sekali baru bagi saya, tetapi pasti sangat berguna bagi saya.

Saya menemukan 2 orang yang lumpuh tetapi demikian gigih berkreasi, mengapa saya yang memiliki dua tangan dan kaki yang sempurna tak bisa sungguh-sungguh merampungkan novel dan cerita-cerita fiksi saya yang terbengkalai di folder-folder komputer saya. Ini adalah kegagalan saya pada tahun 2008, kemalasan yang terus-menerus merusak kehidupan saya.

Kisah nyata di DaAi TV tentang sebuah keluarga yang gigih dan tekun, hemat dan saling menolong, merupakan sinetron favorit saya – Ketika Gladiol Bersemi – mengingatkan saya pada keluarga besar saya.

Pada tahun 2008 ini, ayah saya mendapatkan berkah dan karunia dari Tuhan, karena pada akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan, untuk dunia sastra dan budaya, negara mengeluarkan gelar Professor atau guru besar untuknya. Gelar yang seharusnya diberikan kepada beliau sejak dahulu, demikian kata para koleganya. Sebagai putrinya, saya sangat bersyukur, serta bangga kepadanya. Ayah saya memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, tetapi pemikiran dan ilmu pengetahuannya sangat kaya, sejujurnya saya tidak pernah benar-benar bertemu orang sekaya dia (dalam hal ini) di dunia ini.

Seperti halnya bapak kepala desa/RT atau ayahnya Ming Chong, ayah saya sangat tekun mendalami bidang-bidang ilmu yang ia minati: sejarah, sastra, filsafat dan budaya. Terus-terang, saya merasa tidak akan pernah mewarisi ketekunannya ini, padahal inilah warisan yang sangat saya ingin dapatkan dari beliau. Ia menghabiskan sepanjang malam untuk menulis dan membaca, serta pergi kemana pun dengan angkutan umum, baik taksi, angkot, maupun ojek. Seingat saya ayah saya tidak pernah membelikan saya barang-barang mahal, selain buku-buku tebal yang sekarang pun sulit saya belikan untuk anak-anak saya sendiri. Setiap kali ke toko buku, ayah saya akan mengizinkan saya membeli buku apapun yang saya pinta, tetapi beliau tak pernah mengajak saya ke mal untuk membeli pakaian atau benda lainnya. Hal-hal semacam ini yang ingin sekali saya tiru dalam kehidupan saya dengan anak-anak saya, tetapi rasanya saya tak akan pernah bisa seidealis ayah saya.

Mungkin hal ini juga karena pengaruh ibu saya juga kuat dalam diri saya.

Pada tahun 2008 ini, ibu saya mengalami banyak cobaan dalam hidupnya. Jika harus dilihat seperti ibunya Ming Chong, ibu saya tidaklah sehemat beliau, tetapi saya sadar bahwa hidupnya selama ini lebih menderita daripada saya dalam hal finansial. Sebagai seorang istri dari dosen yang bergaji kecil, serta tidak bekerja, ibu saya benar-benar bergantung pada ayah saya. Karena itu, baru-baru belakangan ini, terutama setelah kami sekeluarga mengecap kehidupan di negeri orang, ibu saya memiliki barang-barang yang bagus. Tidak seperti saya yang sebulan sekali pasti pergi ke salon, ibu saya jarang sekali ke salon kecuali untuk potong rambut, kalaupun sering itu karena kami dulu pernah tinggal bertetangga dengan saudara yang memiliki salon, jadi gratis dan murah-meriah kalau perlu perawatan di salon. Dengan gaji yang tidak seberapa, saya benar-benar salut pada ibu saya, tanpa perhitungan/perincian di kertas yang bertele-tele, ibu saya bukan hanya bisa mengirim kami ke sekolah yang bagus, tetapi juga membayar kursus-kursus kami, mulai dari bimbel yang bagus, kursus bahasa asing, sampai kursus piano dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung dengan keadaan sekarang, rasanya sama sekali tidak masuk akal bagaimana bisa membayar semuanya.

Pada awal tahun lalu, adik perempuan ibu saya meninggal dunia karena penyakit lupus yang baru berhasil didiagnosis, kendati sejak semula beliau sakit-sakitan. Ini adalah cobaan yang cukup berat baginya, karena dua tahun lalu kedua orangtuanya meninggal dunia dalam waktu bersamaan. Seperti Romeo dan Juliet, kakek dan nenek saya meninggal dunia dengan tenang di atas ranjang yang sama, pada hari Selasa nenek saya, kemudian pada hari Kamis kakek saya menyusulnya. Inilah yang dinamakan sebagai sehidup semati. Pada saat itu mereka telah berumur lebih dari 90 tahun – jarak usia mereka hanya terpaut setahun.

Tante Ari, seorang pegawai BUMN, dan istri yang solehah, meninggalkan 3 orang anak dan dua orang cucu, serta seorang suami yang mendampinginya di saat-saat terakhirnya, di sebuah hotel, dalam perjalanannya menemui seorang tabib alternatif. Perjalanan keluarga tante saya bisa dibuatkan dalam sebuah sinetron yang penuh tangis, seperti yang sering saya tonton belakangan ini, tetapi kehidupan memang tidak ada yang kekal. Anak perempuan kesayangannya dan satu-satunya, sama sekali jauh dari harapannya, kendati mencintainya, tetapi dua orang ini saling berbeda haluan. Dari seorang perempuan yang akrab dengan dunia gemerlap malam, sepupu saya kemudian berubah menjadi muslimah yang taat dan konservatif, tetapi kemudian melepaskan kuliahnya setelah menikah – keputusan inilah yang mengecewakan Tante Ari, tetapi dalam hal ini tak ada yang salah atau tak ada yang benar, yang ada hanyalah perbedaan pendapat dalam menyikapi segala sesuatu. Suaminya pernah berselingkuh, pernah juga melakukan KDRT kepadanya, tetapi Tante Ari memaafkannya dan Tuhan menyatukan mereka kembali dalam karunia cinta Illahi yang mengharukan.

Tahun ini entah sudah berapa kali ibu saya harus bolak-balik Jakarta-Surabaya. Pada malam 7 hari setelah kematian Tante Ari, sepupu saya yang lain di Surabaya menikah. Saya sama sekali tidak menduga saat saya merangkul putri Tante Ari saya akan menangis… Kerudung hitamnya yang panjang lebar, kendati pernah “mengintimidasi” saya pertama kali dulu atas perubahaannya yang drastis, mendadak seperti sebuah selimut yang menghangatkan hati saya. Barangkali benar yang sering diungkapkan di DaAi TV, melihat sesuatu atau seseorang dari sudut pandang lain akan menghasilkan hal yang lain pula.

Setelah kematian Tante Ari, ibu saya mendadak sering menderita berbagai sakit, mulai dari diare hebat yang menyebabkannya gagal menghadiri pernikahan sepupu saya di Padang – sepupu saya yang sempat hilang lebih dari 20 tahun karena perceraian, karena memerlukan wali pernikahan, akhirnya dia kembali ke pangkuan keluarga kami. Bagaikan sinetron, sepupu saya ini tidak tahu bahwa ayah kandungnya telah meninggal dunia, dan akhirnya wali penggantinya adalah ayah saya. Ini juga berkah tahun 2008 bagi keluarga kami karena akhirnya kami bertemu lagi dengan Arya, satu-satunya keturunan dari adik lelaki ayah saya, Om Warjo.

Karena berbagai penyakit itu pula, ibu saya lagi-lagi bolak-balik Jakarta-Surabaya, karena sebagian dari keluarga besar kami di Surabaya memiliki akses ke dunia kedokteran, maupun pengobatan alternatif, serta kami anak-anaknya tidak dapat menemaninya ke rumah sakit secara reguler.

Saya bersyukur karena Allah masih mengizinkan ibu saya sembuh, dan saya masih diberi kesempatan untuk berbakti kepadanya.

Tetapi, lagi-lagi di penghujung tahun ini, satu-satunya paman terdekat ibu saya meninggal dunia dalam usia 70 tahun. Ini adalah sebuah guncangan yang tidak pernah kami duga. Mbah saya ini mendadak stroke, dan dalam tempo dua hari saja dia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Dia merupakan paman terdekat karena sejak semula dia tinggal dekat dengan kami di ibukota, bahkan ketika kami mulai tinggal di pinggir kota, dia juga tinggal di pinggir kota. Jadi jarak yang kami tempuh ke rumahnya selalu paling dekat daripada dengan sanak saudara tua yang lainnya.

Mbah saya ini terakhir kali mengunjungi rumah saya ketika saya baru melahirkan putri kedua saya. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa keluarganya sedang mengalami banyak masalah, perceraian di antara anak-anaknya, dan permasalahan harta yang ada di balik semuanya.

Saya tiba-tiba merasa harus bersyukur karena sebenarnya kehidupan saya dilimpahi materi, cinta dan ilmu pengetahuan, hanya saja saya selalu merasa kurang cukup! Sejak kecil, saya selalu iri pada sanak saudara saya, terutama keluarga besar dari pihak ibu saya. Sepupu-sepupu jauh saya memiliki rumah yang bagus, mobil pribadi, dan barang-barang yang bagus. Dua dari mereka adalah seniman musik terkenal, yang lainnya adalah dokter, insinyur dan arsitek. Penghasilan mereka sudah pasti 5-10 kali lipat daripada penghasilan saya atau suami saya. Barangkali, hikmah yang bisa saya ambil dari semuanya adalah, jika merasa kurang cukup, kita sama saja dengan mencari-cari masalah sendiri. Lagi-lagi seperti yang pernah saya dengar di DaAi TV, bukan besarnya atau banyaknya masalah yang harus dikhawatirkan, tetapi yang dikhawatirkan adalah mencari-cari masalah itu.

Ketidakpuasan pastinya menimbulkan keinginan untuk melakukan hal yang lain, jika ini adalah perbuatan yang buruk dan menyimpang dari moral, barangkali inilah yang dimaksud dengan mencari-cari masalah. Seperti seseorang yang merasa tidak puas dengan pasangannya, kemudian berselingkuh sebagai pelampiasannya, bukankah itu sama saja mencari masalah baru?

Kalau menonton “Ketika Gladiol Bersemi”, dan membandingkan di antara empat pria putra pak RT dengan suami saya, yang pasti suami saya lebih mirip Ming San! Seorang pria yang tidak romantis dan sangat tekun bekerja, serta berharap saya sangat mandiri. Ini barangkali karena dia dibesarkan oleh seorang ibu pekerja, bukan seperti saya yang dibesarkan seorang ibu rumah tangga. Dan, tentu saja, sebagai akibatnya, saya juga merasa terkadang lebih mirip Xin-Hwa daripada menantu-menantu perempuan lainnya, bedanya, saya jauh lebih pemalas dan cuek daripada Xin-Hwa.

Ibu mertua saya sangat hemat seperti istri Pak RT Gao, lebih suka berjalan kaki daripada naik ojek, membawa bekal makanan ke kantor, dan menghitung segala pengeluaran dengan rinci. Dalam beberapa hal, malahan dalam banyak hal, saya tidak selalu sependapat dengannya. Juga semua orang di sekitarnya. Tiap hari ada saja yang didebatkan oleh ibu mertua saya dengan suami saya maupun kakak ipar saya. Meskipun demikian, setiap kali kesal atau pun jengkel, yang perlu saya lakukan hanyalah mengingat kembali rumus “melihat dari sudut pandang lain” karena tentunya ibu mertua saya berasal dari latar belakang yang sama sekali berbeda dengan saya maupun keluarga saya. Satu-satunya yang saya harapkan darinya, beliau juga akan melakukan rumus ini pada saya dan semua orang di sekitarnya.

Misalnya saja, saya ingat ibu mertua saya ini mempunyai seorang adik ipar yang menjanda dalam usia muda. Seingat saya beliau tidak pernah mengatakan satu hal baik pun mengenai adik iparnya ini. Tentu saja karena dia tidak menerapkan rumus “melihat dari sudut pandang lain”. Akibatnya, saya rasa adik iparnya ini berusaha menjauh darinya, demikian juga dengan putri bungsunya. Selama ini kami mengira telah cukup menolongnya dalam bantuan keuangan. Tetapi saya tahu bibi saya ini haus akan kasih sayang dan karena itu tidaklah mengherankan dia akhirnya menikah lagi dan pada akhirnya ternyata pernikahan ini menimbulkan lebih banyak masalah. Saya menyesal, jika saja saya menggunakan rumus “melihat dari sudut pandang lain” dan memberitahu kepada ibu mertua saya bahwa bibi saya ini perlu dilibatkan pada kegiatan-kegiatan yang lebih positif, dan perlu pula diperkenalkan pada pria-pria yang baik-baik, karena usianya yang masih muda, pastinya masalahnya akan lain pula.

Dari sudut pandang (budaya) tertentu, perempuan yang menikah lagi tampaknya seperti sebuah perbuatan tercela, tetapi tidak semua perempuan, baik muda maupun tua, bisa menerima hidup menjanda sampai akhir hayatnya. Bahkan pikiran maupun rencana ke sana sepertinya sudah tercela. Saya ingat ketika bibi saya ini pernah mengutarakan niatnya jika memang ada jodoh lagi dia ingin menikah lagi. Dengan sudut pandang ini, saya pikir dia gila atau tidak sadar diri ? Ternyata dia benar-benar menikah lagi – dan rupanya dia malah mendapat banyak masalah termasuk celaan yang terus bertubi-tubi kepadanya, tanpa suatu solusi untuk menolongnya keluar dari masalahnya sejak awal.

Tetapi ketika saya menggunakan sudut pandang lain, seperti ketika Tante Ari meninggal, saya tiba-tiba juga merasa tidak rela sosok Tante Ari akan digantikan wanita lain oleh paman saya, tetapi paman saya pastinya mempunyai kebutuhannya. Sejak semula saya juga berharap, jika kelak saya meninggal lebih dulu, saya tidak ingin membiarkan suami saya hidup sendirian sepeninggal saya (he he malah saya pernah bilang padanya, kalau bisa cari pengganti saya juga mantan Kohati). Sebaliknya, saya enggan dan tidak bisa membayangkan berada dalam nasib seperti ibu mertua saya dan adik-adik iparnya yang menjanda muda.

Pada tahun 2008 ini saya bertemu dengan banyak sekali janda muda, sepupu saya yang menjadi janda muda dengan 3 anak yang waktu itu masih kecil-kecil, sampai sekarang bisa bertahan mencukupi ketiga anaknya semua sekolah yang mahal, dan belum menikah lagi. Sepupu perempuan saya yang lain menikah lagi untuk kedua kalinya setelah pernikahan pertamanya dengan sesama sepupu saya gagal. Jelas-jelas ini bagi saya lebih menarik daripada infotainment. Sebuah hikmah tersembunyi yang harus saya hayati maknanya dan menjadikannya sebagai bahan pelajaran.

Mengenai masalah perempuan ini saya jadi teringat sinetron DaAi TV tentang perempuan yang disiram air keras oleh orang tak dikenal sehingga wajahnya menjadi rusak dan dia akhirnya tak jadi menikah lagi. Saya lupa judulnya.

Tetapi, ini juga mengingatkan saya pada nasib pengasuh anak-anak saya: suaminya dipenjara karena kasus KDRT, sehingga dia akhirnya kembali ke pangkuan keluarganya dan harus terpisah dari dua anak perempuannya yang diambil oleh saudara-saudaranya untuk mendapat pendidikan. Sementara itu tiga anaknya yang lain hidup bersama dengannya. Dia sendiri terus-menerus dikelilingi masalah keluarga, yang pada akhirnya juga menyeret saya ke dalamnya. Adik bungsunya yang kaya raya dan mengasuh salah satu anaknya merasa berhutang jasa dan sempat membuat saya marah dan jengkel karena mengambilnya sehingga dia tidak bisa menjaga anak-anak saya dan pekerjaan saya jadi terbengkalai. Dua kali hal ini menimpa saya. Karena alasan-alasan yang tidak bisa saya pahami, dari sudut pandang mana pun, adik pengasuh ini menculik pengasuh favorit saya ini hanya untuk menemaninya. Dari sudut pandang lain, saya bisa mengerti bahwa perempuan ini kesepian karena dia berada dalam sangkar emasnya, dengan suami pencemburu, satu-satunya tempat curhat hanya kakaknya ini. Tetapi, cara-caranya sama sekali menjengkelkan saya karena saya telah berusaha berkompromi, tetapi perempuan ini nampaknya tak bisa memahami keadaan saya sementara saya dipaksa menurut untuk memahami keadaannya.

Sebagai manusia biasa yang dipenuhi rasa marah dan emosi, saya benar-benar murka karena menurut saya tidak sepatutnya seseorang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Pengasuh saya pun sebenarnya menolak hanya untuk menemani keponakannya sementara orangtuanya berjalan-jalan sedangkan saya tak bisa menelantarkan anak-anak didik saya selama hampir seminggu. Tetapi, saya percaya Tuhan pasti akan menunjukkan kepada adiknya bahwa perbuatan dan sikapnya ini tidak benar. Bahwa pengasuh saya memiliki kehidupannya sendiri dan sekarang telah memiliki pekerjaan dan pekerjaan ini adalah amanah yang saya berikan kepadanya, serta komitmen yang telah ia sanggupi sejak kami pertama kali bertemu. Seorang wanita muda (umurnya 5 tahun lebih muda daripada saya) yang tidak bekerja, dengan beberapa pembantu, dan seorang baby sitter, di sebuah rumah besar, saya berharap Tuhan memberikan penerangan kepadanya dan juga suaminya – seorang perwira yang sepatutnya memberi contoh dimulai dari keluarganya sendiri sebagai sumbangsihnya bagi rakyat sekitarnya – agar mengizinkan dia keluar dari rumah dan berbuat banyak kepada umat manusia, seperti para relawati-relawati Tzu Chi.

Sudah jelas saya lebih beruntung daripada perempuan yang disiram air keras itu. Saya harus mensyukurinya. Kendati kadang-kala saya masih juga bersitegang dengan suami saya karena masalah-masalah sepele, mungkin inilah yang dinamakan sebagai kehidupan yang dinamis.

Dalam hal ini saya jadi teringat tentang sinetron “Menemukan Kembali Kasih Sayang” yang saya tonton agak terlambat. Saya memang pemarah dan emosional, tetapi suami saya juga sama, seperti cermin saya sendiri. Ini sedikit berbeda dengan suami Su-Lian yang sangat sabar. Tetapi, entah bagaimana, pada satu sisi di dalam pertengkaran saya justru selalu menemukan titik temu. Seperti Su-Lian, saya juga memiliki banyak cita-cita termasuk cita-cita dalam kegiatan sosial.

Sejak mahasiswi saya telah aktif sebagai anggota dua organisasi agama, semuanya saya lakoni bukan semata-mata karena saya pemeluk dari agama tersebut, tetapi lebih karena saya berharap bisa melakukan sesuatu yang bisa mengurangi kesombongan, ketakaburan dan kebodohan saya. Saya tiba-tiba merasa bersyukur saya pernah melewati semuanya – tidur di atas lantai yang dingin di sebuah pesantren yang sangat sederhana untuk sebuah pelatihan kaderisasi, rapat-rapat organisasi sampai tengah malam, menikmati kereta kelas ekonomi yang penuh sesak, dan perdebatan sengit dengan berbagai manusia dari berbagai latar belakang.

Semboyan di Muhammadiyah yang terus menerus menginspirasi saya untuk aktif di IMM pada waktu itu adalah “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari ‘kehidupan’ di Muhammadiyah” dan semboyan HMI yang masih menjadi semboyan hidup suami saya, “Yakin Usaha Sampai” sebenarnya adalah kata-kata pengguggah yang sama, hanya saja ditulis dengan diksi dan format yang berbeda dengan kata-kata yang saya sering jumpai di DaAi TV dan saya dengar dari Mario Teguh, tetapi semuanya bersumber pada kebaikan yang sama.

Sayangnya, saya jumpai masih banyak yang mencari “kehidupan” di sebuah organsisasi amal seperti Muhammadiyah, dan “yakin usaha sampai”nya melenceng ke arah yang sesat. Kehidupan yang dimaksud di sini tentu adalah “materi” dan “sampai” yang sesat adalah perbuatan seperti korupsi dan manipulasi.

Menonton DaAi TV seperti membangkitkan kembali gairah saya untuk berorganisasi seperti dulu, kendati saya tidak tahu bagaimana saya bisa membagi waktu, dan organisasi apakah yang akan saya sertai. Yang pastinya saya harus berbuat kebaikan dan kebajikan.

Saya benar-benar tersentuh dan tersadar pula setelah menonton sinetron “Permata Bunda”, tentang seorang ibu yang beranak hiperaktif dan tuna grahita, si Chian Chang.

Setelah dewasa saya baru bisa memahami dan memaafkan ibu saya yang mengurung saya di kamar mandi, dan ayah saya membanting kursi plastik yang saya perebutkan dengan adik-adik saya. Putri sulung saya yang sekarang berumur 4 tahun sering sekali sulit diatur.

Kerap kali menonton Nanny 911 saya berusaha mengaplikasikan beberapa hal, seperti melakukan “times up” dan tak ada tempat yang lebih baik selain kamarnya sendiri. Tetapi, rupanya ini disalahartikan oleh putri saya sebagai hukuman kurung penjara sehingga ibu mertua saya tidak bisa menerimanya.

Jika saya kelewatan batas, dan secara refleks memukul atau mencubitnya, terutama ketika dia tiba-tiba nyaris melakukan perbuatan yang membahayakan dirinya maupun adik bayinya, saya sendiri sebetulnya sangat menyesal.

Setelah menonton “Permata bunda” saya baru bisa memaafkan diri saya sendiri. Saya teringat bahwa di sekolahnya dulu, sebuah sekolah Cina dan berbahasa pengantar bahasa Mandarin, adik saya selalu dihukum dengan sebatang rotan kalau tidak mengerjakan PR. Di sekolah saya, pada masa yang sama dengan adik saya, saya juga pernah dipukul rotan oleh ustadz saya. Hal ini pasti sekarang sudah termasuk kekerasan terhadap anak. Menurut suami saya, dia juga pernah dipukul oleh ayahnya karena kenakalan2nya. Tetapi, apakah saya kemudian jadi membenci ustadz tersebut, atau sebaliknya, adik saya justru berterimakasih karena dia sempat mogok sekolah dan memaksakan diri terus sekolah sehingga sekarang menjadi fasih bicara bahasa Mandarin.

Tentu saja, pada akhirnya saya jadi semakin percaya diri, bahwa pola asuh apapun yang saya terapkan, tak ada manusia yang sempurna. Saya sadar bahwa kekerasan akan melahirkan kekerasan, dan saya selalu berusaha untuk bersabar. Tetapi, tampaknya saya perlu banyak sekali berlatih. Karenanya setiap kali saya melakukan sesuatu di luar kendali saya, seperti menjewer dan mencubitnya, setelahnya saya langsung memeluk putri saya, menciumnya dan meminta maaf kepadanya. Saya percaya kelak dia mengerti bahwa saya hanyalah seorang wanita biasa, kemudian saya berusaha menjelaskan kepadanya mengapa saya marah dan bertindak buruk. Pada akhirnya, seperti saya, saya akhirnya bisa memaafkan dan memahami orangtua saya.

Perubahan zaman menyebabkan berubah pula “hukuman” yang dianggap baik bagi mendidik anak-anak. Rotan, jeweran, dsb telah dianggap sebagai bentuk kekerasan yang tidak dapat ditoleransi, karena anak-anak telah menyaksikan kekerasan yang terus-menerus berlangsung di dunia ini secara fakta maupun fiksi di televisi. Akibatnya jika kekerasan ini terus berlanjut, maka generasi baru ini akan semakin kebal terhadap kekerasan dan memiliki sikap yang lebih keras daripada generasi saya. Jika pada zaman kanak-kanak saya hanya menonton satu stasiun televisi, sekarang anak-anak saya bukan hanya menonton televisi dengan ratusan channel, tetapi juga bisa melihat internet dengan berbagai video dari youtube dan sejenisnya.

Dari DaAi TV yang terus menerus mengkompori saya tentang bahaya pemanasan global, saya memulainya dengan hal kecil yang sangat sepele. Saya mulai membiasakan mencetak sesuatu dengan kertas dari kedua sisi, sesuatu yang sebelumnya saya anggap remeh.

Dari sinetron-sinetron DaAi TV juga, saya jadi belajar mensyukuri pekerjaan saya. Jika saya ingin menjadi guru PNS, saya bisa melakukannya. Tetapi, seperti kata Master Cheng Yen: “Di dunia ini tak ada yang tak bisa dilakukan, hanya dikhawatirkan tidak mau melakukannya.” Seperti itulah saya. Jika tak ada orang ingin melakukan pekerjaan ini dengan baik, maka mengapa saya membiarkan posisi ini kosong. Menjadi guru kursus, atau memberi tambahan pelajaran bahasa Inggris kepada anak-anak, dengan pengalaman dan wawasan pengetahuan yang terlalu menumpuk di dalam diri saya, ternyata membuat saya bahagia di satu sisi. Hal yang tak bisa saya berikan jika saya melakukannya di sekolah biasa dengan jadwal kurikulum yang ketat dan tugas-tugas fungsional yang terkadang lebih menyangkut masalah akreditasi sekolah dan pangkat guru. Dengan komputer, projektor, dan ide-ide saya, saya benar-benar menikmati pekerjaan ini, kendati jika kelak saya disuruh mencoba hal lain saya juga tidak takut. Namun, untuk sementara waktu, saya benar-benar menikmati pekerjaan ini. Murid-murid Rabu-Sabtu, misalnya adalah favorit saya sehingga saya tiba-tiba menjadi seorang guru yang justru tidak rela melepaskan kelas ini. Ternyata, ketika kita menikmatinya, banyak hal yang justru saya dapatkan. Cerita-cerita dari mereka dan orangtua mereka, dengan beragam latar belakang budaya dan agama, semakin memperkaya saya.

Mendengar lagu Tzu Chi yang syahdu tentang “cinta kasih”, tampaklah Palestina sekarang. Menyaksikan darah yang mengalir di Palestina saat ini benar-benar menyesakkan hati saya. Perayaan 2 tahun baru (atau 3 tahun baru karena saya juga suka merayakan Tahun Baru Cina) dalam kurun waktu ini sepertinya benar-benar “merah” di dada saya!

Dengan menggunakan rumus “melihat dari sudut pandang lain”, dari sudut pandang yang tak lazim, saya melihat dua anak dari seorang bapak yang saling berebut tanah warisan, mereka saling membunuh dan saling menyakiti. Bani Ishak (bani Israil) dan Bani Ismail (Arab). Dengan pikiran manusia sebodoh saya, saya ingin sekali katakan, tinggalkan saja tanah itu jika hanya untuk saling menyakiti, berikan kembali kepada Tuhan….tak seorang pun berhak kecuali Tuhan yang menentukan. Melalui sejarah, sesuatu yang telah digariskan oleh Tuhan, kita tahu bahwa Yerusalem telah diperebutkan oleh banyak pihak sejak semula, dan semua pihak merasa berhak atasnya.

Dengan dalih Holocaust, peristiwa yang menindas jutaan kaum Yahudi, pihak Zionis merasa paling berhak atas Yerusalem. Dari sudut pandang manapun, tindakan Zionis membunuh dan menyerang orang-orang Palestina tidak dapat dibenarkan. Namun, sebaliknya, orang Arab Palestina harus berintrospeksi, mengapa pada tahun 1967 tanah mereka sampai jatuh ke tangan Israel? Apakah mereka tidak bersatu, seperti halnya orang-orang di Indonesia dulu sampai berhasil dijajah Belanda – tetapi konteks sejarah kasus ini harus dilihat lain. Sejak awal Belanda tak pernah punya hak atas Nusantara. Namun, orang Yahudi menganggap Yerusalem adalah tanah nenek moyang mereka yang terpaksa ditinggalkan nenek moyang mereka pada awal masehi. Karena itu persoalan Israel-Palestina jauh lebih pelik dan rumit dilihat dari sudut pandang manapun.

Jika orang Zionis dan Yahudi manapun menggunakan dalih Holocaust, mengagung-agungkan makna Holocaust, mengapa sekarang mereka tega melakukan genosida kepada saudara-saudara Arab mereka di Palestina? Kita tahu bahwa jawabannya tidak terletak pada hati atau pun akal, tetapi pada keegoisan manusia yang merasa diri mereka paling benar dan paling berhak atas sesuatu sehingga perang inilah yang terjadi selama ribuan tahun di Yerusalem.

Bagaimana jika begini, seperti yang pernah dilakukan kakek Nabi Muhammad ketika dia menyerahkan Mekkah kepada Abrahah, dia bilang bahwa Kaabah adalah rumah Tuhan dan dia kembalikan kepada Tuhan… Jika semua orang Palestina meninggalkan Yerusalem, apakah akan menjamin orang Israel diizinkan Tuhan menduduki Yerusalem termasuk Kubah Batu (Dome of the Rock), seperti halnya Abrahah yang akhirnya diserang batu-batu dari neraka karena ingin menguasai Kaabah.

Marilah semua pihak merenungkan hal ini – kekerasan pasti akan melahirkan kekerasan. Dendam telah diwarisi selama ribuan generasi. Sebagai “orang luar” dalam arti bukan Arab bukan pula Yahudi, saya tidak pernah habis pikir mengapa kita tidak bisa menemukan persamaan dalam perbedaan ini: orang-orang Arab adalah anak-anak Ismail dan orang-orang bani Israel adalah anak-anak Ishak, dan mereka berdua adalah anak-anak Ibrahim?

Di manakah akal dan hati Lipni si menlu Israel yang wanita itu, ketika dia bersikukuh akan menyerang Hamas dan membiarkan anak-anak tak berdosa di sebuah rumah sakit semakin menderita?

Sepanjang hidup saya, melihat dan membandingkan banyak tokoh terkenal di dunia ini, saya tidak pernah bisa membayangkan hidup sebagai Lipni, Golda Meir, atau pun George Bush – apakah hati saya telah menjadi batu atau besi? Baru mencubit anak saya Ai-Ai saja saya langsung menangis dan merasa bersalah, bagaimana dengan orang-orang ini, yang menandatangani keputusan serang musuh dengan membabi buta sehingga menewaskan anak-anak tak berdosa Sebaliknya orang-orang Palestina semakin frustasi, dan umat Islam di belahan dunia lain juga jadi ikut ‘frustasi’ – melahirkan bom bunuh diri – kekerasan terus melahirkan kekerasan! Apakah orang-orang seperti Bush dan orang-orang Zionis ini benar-benar bisa tidur nyenyak? Pastinya mereka sudah gila.

Ini sebenarnya sama dengan ketika penjajahan Belanda dulu, semboyan “merdeka atau mati” menjadi semangat para pejuang sehingga mereka rela bergerilya dan menukar nyawa mereka hanya untuk kebebasan negeri mereka. Seharusnya orang secerdas Obama akan berpikir sama: tidak hanya melihat dari satu sisi Israel, menyatakan bahwa dia juga tidak akan rela jika anak-anaknya diserang roket Hamas, tetapi mengapa Hamas melakukannya?

Dan sebaliknya kita juga bertanya pada Hamas, apakah mereka merasa telah memperlakukan tanah mereka sekarang dengan baik sehingga Tuhan menguji mereka dengan serangan-serangan Israel? Karena Belanda dulu tidak bisa berkuasa dan bebas lenggang-kangkung di Nusantara kalau bukan karena kelemahan dan kebodohan sebagian dari orang Nusantara sendiri, seperti para raja yang rakus harta, dan sebagainya.

Maka itulah, kembali dengan kata-kata yang berbunyi “Penuhi tanggungjawabmu/kewajibanmu sendiri, berbuat baik…. maka bencana akan menjauh darimu.” Sebagai umat dari bumi yang telah ringkih dan sepuh, saya berharap tahun 2009 akan menjadi jalan baru bagi kehidupan saya yang lebih berarti. Sebagai umat bumi yang sama, tak peduli Islam, Buddha, Kristen, Hindu, Sikh, Kong Hu Chu, Bahai, atheis atau pun komunis, semoga seluruh umat bahwa menyadari bahwa ambisi dan keinginan yang dilakukan dengan cara-cara jahat dan kejam, apapun alasannya, hanya akan membawa bencana, tidak hanya bagi orang lain, maupun diri sendiri, tetapi juga bagi bumi tempat anak cucu kita kelak…akankah nanti masih layak mereka tempati? Pikirkanlah, semuanya!

Dengan keadaan dunia sekarang, “sejarah” sebagai bukti kekuasaan Illahi (karena tak ada yang bisa mengubah sejarah) akan memberikan kenyataan-kenyaatan baru kepada kita, pahit maupun manis: jatuhnya ekonomi AS dan dampaknya kepada seluruh dunia, dan kendati Hitler pernah jaya, dia juga akhirnya jatuh.

Jika Israel dan AS berjaya diatas kezaliman mereka, pastilah akan jatuh pada saatnya nanti (tak perlu percaya pada paranormal yang mengatakan 2012 akan terjadi perubahan besar di dunia, toh dalam sejarah sudah ada!) . Jika Tuhan menghendaki orang Palestina tetap memenuhi bumi Yerusalem, tentulah sekeras apapun usaha Zionis, mereka tak akan berhasil. Jika tsunami bisa mempercepat perdamaian di bumi Aceh, maka penjajahan Belanda telah menyadarkan orang-orang Nusantara akan arti penting tanah air mereka. Jika orang setuli Beethoven bisa menciptakan lagu yang indah, dan orang selumpuh Khun San dan Ugo bisa menciptakan karya lukis yang indah, maka orang-orang yang sempurna juga bisa melakukan hal yang lebih indah daripada perang, korupsi, dan kekerasan lainnya. Semestinya orang-orang sesempurna Ehud dan Lipni, orang-orang sesempurna Bush dan Obama, orang-orang sesempurna Raja Yordania dan Presiden Mesir, orang-orang dengan kekuasaan yang lebih yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka untuk digunakan demi kepentingan seluruh umat manusia, semestinya mereka bisa menciptakan keindahan di muka bumi ini dengan tangan dan kaki sempurna mereka.

Jika mengingat kembali bahwa Muhammad, Yesus, Musa, Ibrahim, Yakub, Siddharta dan para nabi lain pernah merasakan penderitaan yang luar biasa demi mendapat pencerahan dan mencerahkan umat manusia, maka kehidupan saya ini tidak ada artinya sama sekali karena berkat mereka-lah saya tercerahkan. Tuhan telah merahmati seluruh umat manusia. Saya amat bersyukur karenanya. Tetapi…sambil mendengar lagu White Lion favorit saya…”When The Children Cry” saya menangis…. Selain memberi sumbangan kepada mereka, marilah kita berdoa dengan sungguh-sungguh (apapun keyakinan kita): “Tuhan, hentikanlah peperangan ini (di Palestina, di Irak, di Afghanistan, di Srilanka, di Afrika, di manapun)… Kasihanilah anak-cucu kami…Amin.”

Gayatri Wedotami – ibu dari Melika Ayaza (Ai Ai) dan Altantuya Feyyaza (Fei Fei), tutor pada I-tutor.net, istri dari Agus Setiawan, putri dari Abdul Hadi WM.

Leave a Reply