Jengis Khan, Adolf Hitler & George Bush

Jengis Khan, Adolf Hitler, and George Bush in The History of Wars
(Jengis Khan, Adolf Hitler dan George Bush dalam Sejarah Perang)

Oleh : Gayatri Wedotami SS [Sarjana Sejarah:)]

Little child…
Dry your crying eyes…

Sejak pertama kali mendengar lagu White Lion ini, saya langsung jatuh cinta dan sangat menyukai lirik maupun iramanya. Kata-kata yang sederhana, dengan isi yang padat dan ringkas, diiringi nada-nada yang menggugah hati. Kalau mendengarkannya, pikiran saya selalu bisa terbang ke mana-mana – ke Irak, ke Palestina, ke Afghanistan, ke Rwanda, ke Srilanka, ke Myanmar, ke Korea Utara, ke negeri-negeri yang masih menyisakan luka dan dendam perang seperti Bosnia, Kroasia, Irlandia, Turki, Timor Leste….

Sewaktu mengandung putri kedua saya, entah mengapa, agak berbeda ketika saya mengandung kakaknya (waktu itu suka sekali mendengar lagu-lagu bernuansa Cina), saya tergila-gila pada lagu-lagu rock era 80’an terutama lagu yang satu ini. Ketika memilih nama untuknya, saya mengambil keputusan, dan sebenarnya merasa kok kebetulan sekali, saya harus memberikan nama yang sangat jarang terdengar di negeri saya, kalau perlu saya mengambil nama orang Mongolia… Rupa-rupanya di antara beberapa daftar nama yang diberikan ayah saya (yang hobinya memberikan nama kepada anak yang baru lahir) ada di antaranya nama orang Mongolia. Kalau dulu kakaknya diberinama bernuansa Persia dan Turki, sekarang saya memberikan nama Mongolia dan Turki kepada adiknya. Ketiga budaya ini memiliki pertalian erat dalam hubungan sejarah mereka, satu sama lain, maupun kepada negara saya dan budaya agama yang saya anut.

Akhir-akhir ini, setiap kali menyaksikan berita perang di Palestina, saya selalu menangis dan hati saya benar-benar teriris. Saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk para korban perang kecuali berdoa, sedikit menyisihkan uang, dan berusaha memboikot produk-produk para pengusaha pro-zionis yang telah mendanai senjata-senjata para pembunuh biadab.

Kemarahan dan kesedihan saya bukan semata-mata karena saya seorang Muslim. Melihat para biksu dan biksuni terluka karena siksaan para pasukan junta militer Myanmar, hati saya juga terluka dan marah. Orang-orang biadab ini memukul dan menghantam orang-orang suci, yang berdoa sepanjang hari mereka dan tidak pernah membunuh makhluk hidup apapun, memakannya, bahkan sekalipun hanya menepis seekor nyamuk! Di Afrika, lewat acara Oprah Winfrey, saya marah dan sedih melihat sekelompok pasukan melakukan genosida kepada suatu suku. Pasukan itu sengaja membunuh seluruh orang, membiarkan kaum perempuan dan anak-anak mati kelaparan, antar tetangga yang semula hidup rukun bisa saling membunuh.

Perang, penaklukkan, genosida, dan penjajahan yang semuanya bermuara dari kata-kata “kekerasan,” “kesombongan” dan “kebenaran sepihak” telah tampil dengan berbagai warna yang mencolok dalam sejarah umat manusia. Meskipun demikian, keadilan Tuhan pada akhirnya yang memenangkan segala pertempuran.

Di dalam sejarah perang, beberapa orang yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi menonjol dan paling dikenang dalam sejarah umat manusia. Kita mengenal Iskandar Agung yang menguasai dari Makedonia sampai Persia, dan menyebarkan kebudayaan hellenisme suatu kebudayaan paduan kebudayaan Yunani dengan Persia. Hellenisme bahkan terserap dalam sastra Melayu lewat Persia, dengan nama “Iskandar” yang menjadi lambang bapak bagi para raja Melayu. Kita mengenal Julius Caesar yang menguasai dari Mediterania sampai Laut Utara, dan dari Sungai Rhines sampai Laut Atlantik. Demi meluluskan ambisinya, Julius Caesar bahkan menziarahi tempat yang dianggap sebagai makam Iskandar Agung untuk mensugesti dirinya sendiri bahwa dia bisa sehebat Iskandar. Kita mengenal Napoleon Bonaparte, seorang pria pendek dari Perancis yang ingin menguasai Eropa dan berambisi membebaskan Amerika dari tangan Inggris. Dia juga menziarahi makam Iskandar Agung, seperti para pejabat dan anggota militer Indonesia yang menziarahi makam-makam para wali untuk mempercepat kenaikan jabatan dan pangkat mereka. Kita mengenal Jengis Khan, pemimpin pasukan Tartar atau orang-orang Mongol, yang berambisi menguasai dunia, bahkan mereka pernah menyerang Pulau Jawa. Kita juga mengenal Adolf Hitler, dengan ideologi Nazi-nya, dan peran pentingnya dalam Holocaust, seorang pria berkumis yang berambisi menguasai Eropa, bahkan seluruh dunia. Sekarang, kita mengenal George Walker Bush, putra George Bush I, pemrakarsa perang Irak, perang Afghanistan, dan perang Palestina.

Selama ini, nama Jengis Khan selalu identik dengan kebengisan dan kekejaman. Barangkali kata “bengis” berasal dari namanya. Sebagaimana “judes” berasal dari nama “Yudas.” Tak akan ada lagi orang yang ingin memberi anak mereka dengan namanya. Namanya sama seperti Adolf Hitler yang juga dianggap sebagai biang dari segala kebiadaban dan kebrutalan umat manusia. Mungkin, ini pula yang akan menimpa George Walker Bush. Sebagian dari kita percaya, jika dalam waktu dekat pria ini tidak bertaubat dan menyesali dosa-dosanya, bahkan sampai mati masih menganggap dirinya adalah manusia paling berjasa dan terhormat di muka bumi ini, maka sudah pasti selambat-lambatnya dua generasi setelahnya akan menorehkan namanya sama dengan kedudukan Jengis Khan dan Adolf Hitler dalam sejarah umat manusia.

Salah satu film seri yang paling berkesan bagi saya adalah film seri tentang Jengis Khan – saya memang paling suka film bernuansa sejarah, tetapi saya tidak suka film tentang sejarah perang. Jengis Khan saya tonton karena penasaran. Bagaimana sebuah bangsa “kecil”, “barbar” dan “nomaden” bisa menghancurkan pusat peradaban dunia yang paling maju pada masanya, yang saat itu dikuasai oleh orang-orang Islam? Bagaimana seorang asing yang datang dari negeri terpencil dapat menaklukkan wilayah yang sangat luas, dari ujung timur negeri Cina sampai ujung barat Polandia, dari batas utara Rusia hingga batas selatan Teluk Persia?

Ketika Hulagu Khan, cucu Jengis Khan yang sekejam kakeknya, berhasil menghancurkan negeri yang paling maju di dunia pada saat itu, Baghdad, Sungai Tigris menghitam karena lunturnya tinta dari buku-buku dan kitab-kitab pengetahuan umat Islam yang mereka lempar ke dalamnya. Perpustakaan-perpustakaan yang megah dan mengkoleksi ribuan naskah porak poranda. Istana-istana para sultan yang paling indah dan paling mewah pada zamannya – bahkan lebih gemerlap daripada istana-istana Eropa sezamannya – bisa jatuh ke tangan pasukan yang selama ini hanya hidup di tenda-tenda dan tidur di atas padang pasir berlangit bintang-bintang? Seorang pria yang gagah perkasa, yang masih percaya kepada ramalan-ramalan para dukun Shaman, dengan tentara-tentaranya yang terbiasa minum darah binatang, berhasil menghancurkan kota-kota yang telah menggunakan astronomi dan ilmu kedokteran modern untuk kehidupan mereka. Di dalam salah satu episode, para putri Persia menari di balik cadar mereka, menangisi kekalahan para prajurit mereka.

Namun, apa yang kemudian terjadi beberapa tahun berikutnya, sungguh-sungguh di luar dugaan. Melalui perjalanan penuh liku, para keturunan Jengis Khan justru dirasuki oleh ajaran Islam. Di antaranya adalah Barkha Khan, cucu Jengis Khan, dan putranya Juchi Khan. Mereka memeluk Islam. Mereka menguasai Eropa Timur dan berkedudukan di Wolga. Mereka berhasil memukul mundur pasukan sepupu mereka, pasukan Hulagu Khan, sehingga Islam terus berkembang pesat di lembah Wolga. Di sini mereka dikenal sebagai orang-orang Kozak (Kyztchak).

Demikian juga dengan Tagudar Khan, keturunan Hulagu Khan. Kendati dibesarkan oleh ayahnya yang beragama Kristen, tetapi Tagudar memeluk Islam. Meskipun kekuasaannya tidak berlangsung lama karena terjadi perebutan tahta dan juga persaingan pengaruh, bahkan dia digantikan oleh raja-raja beragama Buddha dan Kristen, tetapi keturunannya bernama Ghazan Khan memeluk Islam ketika naik tahta.

Sejak saat itu, keturunan mereka yang terus menjadi penguasa di berbagai negeri justru menjadi dinasti pendukung dan penyokong utama peradaban Islam. Pengaruh mereka justru semakin luas dan berkesan mendalam sejak mereka menjadi dinasti Muslim. Yang paling terkemuka adalah Dinasti Mughal (The Moghul Dinasty).

Dalam film seri “Jengis Khan” diceritakan bahwa nama kecilnya adalah Temujin, putra dari seorang raja kecil atau tepatnya kepala kelompok suku Mongol-Turk, Borjigin. Setelah ayahnya dibunuh, Temujin meminta perlindungan dari suku Nainan dan berhasil menikahi Bortai, putri pemuka suka Nainan. Bortai setia mendampingi Temujin sampai akhir hayatnya. Tokoh idolanya adalah Kutula Khan, pria raksasa yang bersuara menggelegar dan bertubuh sangat kuat. Baginya percikan api adalah gigitan nyamuk. Dalam sehari, dia makan seekor domba dan seguci susu. Katanya, “Kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah menaklukkan para musuh, mengejar mereka sampai tertangkap, kemudian merampas harta milik mereka, memandangi kerabat dekat mereka meratap dan menjerit-jerit, menunggangi kuda-kuda mereka, memeluk istri dan anak-anak gadis mereka serta memperkosa mereka.”

Juwaini, sejarawan abad ke-13 yang menyaksikan kebrutalan pasukan Mongol, menulis dalam bukunya Tarikh-i-Jehan Gusan tentang keganasan mereka. “Jengis Khan naik ke atas mimbar masjid dan mengaku sebagai cemeti Tuhan yang diutus untuk menghukum orang-orang yang penuh dosa.”

Mungkin inilah yang ada dalam benak George Bush, seorang pemimpin Amerika Serikat yang paling populer saat ini karena kesukaannya pada perang. Mungkin saja kebahagiaan terbesar dalam hidupnya adalah menaklukkan para musuh, mengejar mereka sampai tertangkap, kemudian merampas harta benda mereka, memandangi dan mendengar para korbannya meratap dan menjerit-jerit, melihat para pasukannya berhasil menduduki kota-kota musuh seraya menyaksikan para serdadunya berhasil mencabuli para perempuan di negeri-negeri yang mereka serang dan membunuh anak-anak yang kecil serta bayi-bayi yang bahkan belum sempat terlahir ke dunia.

Kita tahu bahwa bangsa Amerika Serikat saat ini bukanlah sebuah bangsa yang telah berumur ribuan tahun seperti bangsa Cina dan India, yang telah ada dan mendiami tanah dan menggunakan sungai-sungai mereka sejak ribuan tahun lalu. Mereka baru terbentuk agak lama setelah Marcopolo dan Amerigo “menemukan” benua Amerika, setelah ribuan tahun terkucil dari pergaulan dunia di bawah kekuasaan suku-suku Red Indian keturunan Mongol (Mongoloid) zaman Es, suku Inca, suka Maya, suku Aztec, dan sebagainya.

Amerika adalah sebuah benua yang semula menjadi tempat pelarian dan juga tempat pembuangan para narapidana dan penjahat Eropa. Hanya beberapa tahun setelah beberapa revolusi dan penemuan-penemuan penting, mereka yang datang adalah para pengusaha dan orang-orang yang ingin memiliki kehidupan baru yang lebih layak dari kehidupan mereka sebelumnya di Eropa. Setelah perang demi perang, terbentuklah beberapa negara dari utara sampai selatan benua Amerika. Di antaranya, yang paling besar adalah Amerika Serikat. Sebuah negara yang kini menjadi penguasa dunia.

Amerika sebenarnya adalah benar-benar tempat “melting pot” dunia, karena ras yang mula-mula mendiaminya adalah ras Merah keturunan ras Kuning-nya Mongoloid. Kemudian datanglah ras Putih dari Eropa, bersamaan dengan ras Hitam sebagai budak-budak mereka. Setelah Perang Dunia II, ras Kuning yang didominasi oleh orang Cina dan Korea mulai memenuhi pula AS. Dari buku-buku dan film-film mereka, kita tahu bahwa salah satu tempat di dunia yang paling rasis adalah AS. Kita tahu bagaimana di sana pernah ada yang namanya “segregasi” yang pemisahan penggunaan sarana publik di antara kulit putih dengan kulit berwarna. Padahal, kita tahu sejak pertamakali berdiri, sebagai sebuah negara berdaulat, AS tidak pernah dijajah (Kita tidak bisa mengatakan orang-orang Eropa telah menjajah negeri orang India Merah, tetapi mereka merebutnya satu persatu tanah dari suku-suku yang saling terpisah dan mempersatukannya dalam sebuah negara). India, Afrika Selatan, Malaysia dan Indonesia mengalami berbagai undang-undang diskriminatif seperti apartheid dan sejenis segregasi karena bagian dari penjajahan bangsa Eropa.

Seperti suku-suku Mongol-Turk di Asia Tengah, tanpa diduga-duga mereka berhasil menaklukkan nyaris seluruh negara di dunia saat itu. Saya mendengar ada suatu penelitian terbaru, mengungkapkan bahwa struktur DNA sejumlah pria di Eropa Timur, Rusia, Asia Tengah dan Persia memiliki asal cabang yang sama, yang diduga sebagai keturunan Jengis Khan. Kita tidak tahu dengan pasti berapa banyak gadis yang telah diperkosa Jengis Khan, putranya Ogotai Khan, cucunya Hulagu Khan, dan cicitnya Kubilai Khan. Tetapi, kita tahu mereka semua telah memiliki doktrin perang yang tidak mengenal kata kemanusiaan, apalagi menghormati kaum perempuan sebagai seorang manusia. Karena itu, kita tidak tahu berapa banyak dari para perempuan itu akhirnya memiliki anak dan akhirnya keturunan mereka memenuhi seisi bumi.

Maka, Amerika Serikat (AS) juga, siapa yang pernah menyangka pada awal berdirinya, setelah berhasil membomatomkan Hiroshima dan Nagasaki, ia akan menjadi salah satu penguasa di dunia? Bahkan, saingan utamanya, Uni Sovyet, tumbang lebih dulu!

Meskipun saya paling tidak suka menonton film perang, tetapi saya selalu memaksakan diri untuk menonton film-film berlatar Perang Dunia II, terutama dengan isi propaganda-propaganda Yahudi terselubung mengenai Holocaust. Bagaimana pun, saya berusaha berprasangka baik, film-film tersebut hanyalah sebuah karya seni dan pembuatnya hanya menafsirkan sejarah menurut pandangannya sendiri. Kalaupun memang ada agenda terselubung, kita bisa mengkritisinya. Terus terang, saya selalu penasaran kalau ada film atau buku yang bercerita tentang orang Yahudi, meskipun tentang perang. Kesalahan kita, setidak-tidaknya sebagai sejarawan dan seniman yang semestinya mengabarkan kisah dunia dengan sikap “netral”, adalah berdiri terlalu dekat dengan sejarah atau fakta yang kita lihat. Jika kita menggunakan sudut pandang berbeda, menjauh, dan memilih perspektif sebagai seseorang di luar “medan perang”, kita akan menemukan hikmah yang bisa mencerahkan jiwa dan menjernihkan pikiran kita.

Adolf Hitler adalah ikon Perang Dunia II yang paling dihujat (oleh orang Yahudi) sekaligus paling dipuja (oleh para pengikut Neo-Nazi) pada masa kini. Baginya bangsa Arya adalah yang paling layak memimpin dunia ini. Tak ada tempat bagi orang-orang cacat dan sakit jiwa. Saya tidak tahu istilah “bangsa Arya”-nya Adolf Hitler apakah termasuk juga “bangsa Arya”-nya para penduduk India, dan saya ragu-ragu apakah di dalam kamp-kamp penyiksaan dan pembunuhannya Adolf Hitler sama sekali tidak ada orang Muslim atau orang berkulit warna selain orang Yahudi?

Salah satu film tentang kamp penyiksaan yang paling berkesan bagi saya tentu saja adalah Schindler’s List. Seorang kapitalis bernama Schindler membayar kepada pemerintah Nazi untuk membeli seribu lebih orang Yahudi demi menyelamatkan mereka dari kamar-kamar gas. Kita tidak tahu apa motif sebenarnya, tetapi kita bisa berprasangka baik, bahwa laki-laki ini memiliki nilai-nilai kemanusiaan, kendati di awal cerita dia sama seperti pada umumnya para pemilik modal – yaitu meraup keuntungan dan memperkaya dirinya sendiri. Mereka yang diselamatkannya menganggap Schindler adalah seorang pahlawan. Di akhir cerita, Steven Spielberg bahkan merasa perlu mengutip kata-kata dari Talmud (kitab kumpulan fatwa para rabbi atau pendeta Yahudi) yang mengatakan bahwa jika seorang manusia berusaha menyelamatkan sebuah nyawa, dia sama seperti menyelamatkan dunia.

Sebuah ironi jika kata-kata yang dikutip itu hanya berlaku bagi manusia Yahudi (terutama dibaca Zionis) saja. Dalam hal ini, di Palestina, mengapa pemerintah Amerika Serikat bersikukuh membela Israel hanya demi kepentingan orang Yahudi saja dan menutup mata serta membungkam telinga mereka dari tangisan anak-anak Arab Palestina yang tiada berdosa?

Dari beberapa literatur tentang karakter dan sifat Yahudi sebagai sebuah bangsa, kita bisa mendapat jawaban mengapa orang Yahudi (baca: Zionis) hanya mementingkan untuk menyelamatkan nyawa dari kalangan mereka sendiri, sebaliknya menghalalkan darah orang-orang di luar Yahudi, baik etnis maupun umat agama lain, termasuk orang-orang Nasrani.

Kita sebenarnya tahu bahwa tidak semua orang Yahudi itu jahat. Namun, melihat perang Israel-Palestina yang tidak kunjung usai, karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga.

Jika kita menggunakan istilah Yahudi bukan sebagai Zionis dengan istilah seperti Bani Israel, maka kita bisa pula menggunakan istilah Bani Ismail bagi orang-orang Arab.

Kita tahu bahwa Israel adalah nama yang dinisbahkan kepada Yakub (Jacob), sebuah gelar karena ketaatannya pada Allah. Dia memiliki duabelas putra, dan putra-putranya itulah yang memenuhi segenap bumi sekarang dan dikenal sebagai orang Yahudi. Orang-orang Islam awal mengenal nama anak-anak Yakub dari cerita-cerita orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memeluk Islam, karena di dalam al-Qur’an setahu saya hanya Yusuf (Joseph) dan Bunyamin (Benjamin) saja yang disebutkan.

Yakub adalah putra Ishak (Isaac), dan Ishak adalah putra kedua Ibrahim (Abraham). Orang-orang Yahudi menganggap Ishak adalah putra sah Ibrahim karena ibunya, Sarah, adalah istri pertamanya, dan dia juga masih memiliki hubungan keluarga dengan Ibrahim. Tetapi, kita tahu, bahwa sampai tua, mereka berdua belum juga dikaruniai anak sehingga membuat Sarah merasa bersalah, sebuah kebiasaan yang lazim merasuki kaum perempuan sampai sekarang. Dia akhirnya meminta Ibrahim menggauli budaknya, Hajar, hadiah dari Firaun yang pernah menawannya selama beberapa tahun. Kita tahu, bahwa pada zaman itu, ketika perbudakan masih dihalalkan, bahwa bukanlah sebuah dosa bagi seorang pria menggauli budaknya. Ini sama seperti seorang raja yang mempunyai selir-selir. Terutama jika istrinya yang sendiri yang ingin agar suaminya mengawini budak perempuannya.

Kita tahu bahwa setelah Hajar mengandung, Sarah diliputi perasaan cemburu, sebuah perasaan yang wajar dan normal bagi semua perempuan yang dimadu. Maka, dia memohon agar Ibrahim mengasingkan Hajar darinya, dan Ibrahim pun meninggalkan Hajar di tengah padang tandus di dekat batu tempat Ibrahim bersujud memuja Allah. Dengan izin Allah, Hajar dan putranya yang baru lahir, Ismail, diberikan mata air yang terus mengalir sampai hari ini – ribuan gentong dan botol telah diisi selama berabad-abad dan diminum oleh semua orang di seluruh penjuru bumi – dan air inilah yang menarik datangnya para pengembara dan pedagang untuk singgah. Maka, berdirilah kota Mekkah dengan Ismail sebagai pemukanya. Maka, lahirlah keturunan Ismail. Jika orang Yahudi menolaknya sebagai keturunan sah Ibrahim, ini bukan persoalan kita. Bagaimana pun juga Ismail memiliki darah dan DNA Ibrahim, bukan?

Dalam kitab-kitab suci Islam, Nasrani dan Judaisme (saya menggunakan istilah ini untuk membedakannya dari istilah bangsa Yahudi), Allah berjanji akan memberikan keturunan kepada Ibrahim dan memenuhi seluruh bumi ini dengan keturunannya. Janji Allah tidak pernah diingkari.

Akhirnya Sarah juga mengandung dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang kemudian kita kenal sebagai Ishak. Umat Islam sangat sedikit mengupas sejarah tentang Ishak. Ada sebuah perbedaan yang mencolok dalam keyakinan umat Islam dengan keyakinan umat Nasrani maupun Judaisme tentang peristiwa pengorbanan anak Ibrahim. Saya rasa ini adalah salah satu perbedaan pertama yang muncul di antara tiga umat ini – bagi umat Islam yang akan dikurbankan Ibrahim adalah Ismail, sedangkan bagi umat Nasrani dan Judaisme yang akan dikurbankan adalah Ishak. Tetapi, ini pula yang menjadi simbol keagamaan yang penting. Hari Raya Haji atau Hari Raya Kurban yang ditandai pada hari dikurbankannya Ismail, dirayakan sebagai hari raya kedua umat Islam selain Hari Raya Idul Fitri. Sementara itu, bagi umat Nasrani, dan juga penganut Judaisme, hari ketika Ishak diserahkan kepada Tuhan oleh bapaknya Ibrahim adalah sebuah hari yang paling bersejarah.

Kita tahu bahwa di Yerusalem, ada sebuah tempat, ada sebuah batu, yang berkaitan dengan hari paling bersejarah itu, yang menjadi salah satu penyebab ketiga umat agama ini saling berebut untuk menguasai tempat tersebut.

Sejak jatuhnya kekuasaan Daud (David) dan Sulaiman (Solomon), selama ribuan tahun bangsa Yahudi terusir dari negeri mereka di Yerusalem, dan selama itu pula mereka beranak-pinak, terutama di Eropa dan Rusia. Ghetto-ghetto yang mereka eksklusif dengan etos kerja mereka yang ulet dan tekun telah melahirkan banyak cendekiawan, seniman dan pengusaha sukses yang membuat iri serta cemburu para penduduk asli Eropa. Ditambah lagi dengan sifat asli orang Yahudi yang sombong, yang menganggap bangsa mereka sebagai bani kesayangan Tuhan. Anti-semitisme, serta semua sikap rasis, dipicu dari sifat dengki dan iri hati yang mengotori hati dan pikiran manusia. Inilah yang kemudian merasuki para pendukung Nazi sehingga mereka berupaya melakukan genosida terhadap kaum Yahudi.

Beberapa bacaan menyiratkan bahwa gerakan anti-Semitisme di Jerman sesungguhnya dikobarkan oleh orang Yahudi sendiri, sebuah upaya untuk mendapatkan perhatian dan restu dunia agar tercipta sebuah negara khusus untuk bangsa Yahudi. Bayangkan, sebuah bangsa dengan banyak sumber daya yang jenius dan berharta melimpah, tidak memiliki negara sama sekali. Lagipula, tidakkah anda lupa, bahwa bapak dari ekonomi modern adalah keturunan Yahudi, dan para pemilik modal pada masa itu, banyak juga yang keturunan Yahudi. Maka, diperlukan sebuah upaya untuk mengorban satu dari sepuluh orang Yahudi demi mewujudkan negara ini. Dan, akhirnya, dikorbankanlah enam juta Yahudi di Jerman. Sebuah angka yang masih perlu dikritisi, tetapi kenyataan bahwa holocaust itu benar-benar ada tidak saya ragukan. Ini adalah sebuah hipotesis yang tidak saya dukung maupun tidak saya tolak, tetapi kita tahu bahwa hasil dari holocaust ini benar-benar luar biasa. Serta-merta, orang Yahudi seperti mendapat pembenaran untuk kembali ke Yerusalem dan memperoleh konsesi dari negara-negara Arab yang sedang dijajah saat itu untuk mendirikan negara sendiri yang berazazkan Judaisme. Negara Israel inilah yang berdiri di atas tanah negara Palestina – orang-orang Yahudi yang miskin dan menderita pasca-Holocaust diungsikan ke Israel, dibiarkan merebut lahan-lahan kosong yang sebenarnya milik orang-orang Arab.

Perang 6 Hari dan berdirinya negara Israel dianggap sebagai kemenangan bangsa Yahudi dalam sejarah dunia, dan dianggap pula sebagai bukti bahwa Tuhan mendengarkan ketidakadilan dan doa para korban holocaust Yahudi yang telah dizalimi tentara Adolf Hitler. Para perempuan Yahudi yang cantik diperkosa oleh para tentara Nazi, seperti para perempuan Persia diperkosa oleh para lasykar Tartar, sementara itu anak-anak mereka tertawa gembira saat disuruh mandi padahal mereka akan disabuni oleh gas beracun. Pada akhirnya, bani Israel kembali bisa mengibarkan panji-panji mereka, sebagaimana cucu Jengis Khan akhirnya berhasil mengusai negeri yang telah lama menjadi musuh bebuyutan bangsanya: Cina. Dinasti Yuan yang gagah perkasa memerintah Cina selama beberapa abad. Sekarang, bendera Israel-lah dengan bintang daudnya yang berwarna biru yang berkibar di cakrawala Palestina.

Pada saat patung Saddam Hussein jatuh dan ia ditangkap dengan wajah seperti seorang sakit jiwa, kita tahu bahwa sebagian orang Irak yang pernah dizalimi Saddam Hussein pada saat itu menganggap George Bush sebagai pahlawan mereka Kita tahu bahwa sebagian orang Afghanistan yang frustasi karena otoriterisme pemerintahan Taliban yang mengekang segala sendi kehidupan mereka mengelu-elukan George Bush sebagai pahlawan mereka. Ini sama seperti ketika. Ini semua sama seperti ketika para pribumi inlander dengan hangat dan bersorak-sorai menyambut para tentara Jepang sebagai pahlawan pembebas mereka. Kenyataannya, beberapa bulan kemudian, mereka tak lebih sama buruknya dengan para tentara Belanda, bahkan lebih biadab lagi, hanya dalam beberapa tahun saja pendudukan mereka, para perempuan pribumi telah diperkosa dan dijadikan jugun ianfu.

Apakah anda tidak heran bukan kepalang, mengapa George Bush tidak tertarik menyelamatkan orang-orang Myanmar yang hidup menderita di bawah rezim militer selama beberapa dasawarsa ini? Sahabat lama saya, Xi Xi Hla Bu, dan salah seorang teman lelakinya, pernah menceritakan tentang kehidupan mereka yang sangat tertekan karena peraturan junta militer tersebut.

Tidakkah anda bingung, mengapa George Bush tidak berani menyerang Kuba ketika Fidel Castro sedang terpuruk kesakitan? Kita tahu Amerika Serikat sangat membenci Kuba dan berusaha merasuki rakyat Kuba dengan nilai-nilai pasar bebas serta ekonomi kapitalisme dan neo-liberalisme mereka – nilai-nilai yang diagung-agungkan oleh para ekonom kita saat ini.

Pastilah anda tidak habis pikir, mengapa George Bush dan parlemen Amerika Serikat justru mendukung penyerangan Israel atas Palestina yang berdampak sangat memilukan bagi anak-anak tak berdosa di sana? Lobi-lobi zionis yang sangat kuat, dengan dukungan dana mereka yang sangat besar bagi pencalonan setiap anggota parlemen telah merusak pikiran, mengotori hati dan membungkam mulut manusia-manusia yang konon menjunjung nilai-nilai kemanusiaan itu. Kita tahu, orang-orang kaya Yahudi tidak tinggal di Israel, tetapi mereka adalah para pengusaha, para taipan dan para pemilik modal besar di AS, Eropa dan berbagai belahan dunia. Kita tahu bahwa mereka ingin menjaga kekuasaan mereka di Timur Tengah.

Kita tahu bahwa para penganut dan pembela Zionis itu (meskipun tidak semua orang Yahudi adalah Zionis) adalah para pemilik modal yang sekarang menguasai kapital-kapital penting di muka bumi ini. Kita tahu mereka hanya menginginkan negara Israel berdiri tanpa ada negara Palestina di samping mereka. Kita tahu mereka berharap Tembok Ratapan dan Kubah Batu tak lagi dipisahkan, dan suatu saat nanti mereka bisa melenggang kangkung masuk untuk bersembahyang di kuil-kuil di Yerusalem tanpa mendengar suara azan dan melihat orang-orang Bani Ismail menyembah Yahweh dengan menyebut nama Allah…

Kita juga tahu bahwa Jengis Khan maupun Adolf Hitler menzalimi kaum perempuan dan kaum anak-anak.

Bisakah kita bercermin, mengintrospeksi diri, atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kita? Jika negara kita diserang, ditaklukkan, lalu dijajah, apakah kita mesti seratus persen menyalahkan orang lain atas kelemahan kita? Jika kita tahu seseorang akan menghina kita karena sikap kita, maka apakah kita akan terus mempertahankan sikap dan kebiasaan buruk kita?

Kita juga tidak bisa memungkiri, bahwa ada beberapa di antara orang Arab di Palestina pada masa perang 6 hari meletus, yang masih menzalimi kaum perempuan dengan pandangan sempit berlatar budaya Arab jahiliyah mereka. Kita tahu bahwa sebelum perang Bosnia pecah, orang-orang Muslim melalaikan sembahyang dan membiarkan mesjid-mesjid terkunci pada waktu Subuh. Kita tahu bahwa di Turki, ketika Sultan Dinasti Usmani masih berkuasa, kaum perempuan diperlakukan tidak manusiawi sebagai selir-selir yang dikurung dalam harem. Kita tahu bahwa pemerintah Taliban telah menafsirkan ayat-ayat suci yang menindas kaum perempuan, melarang anak-anak perempuan menuntut ilmu. Kita juga tahu ketika Portugis dan Belanda menapakkan kaki ke Nusantara, sejumlah bangsawan Melayu silau akan harta dan tahta, sehingga termakan oleh janji-janji palsu mereka. Kita juga tahu, bahwa pada saat Saddam Hussein berkuasa, para pembangkangnya disiksa dan di perbatasan-perbatasan kaum tentaranya memperkosa anak-anak gadis Kurdi.

Kita tahu, tetangga-tetangga Palestina adalah juga kaum bani Ismail, tetapi ke manakah dan di manakah mereka, mengapa mereka tidak bersatu membantu orang-orang Palestina? Kita tahu bahwa banyak orang kaya di dunia berasal dari jazirah Arab, beberapa di antaranya memiliki klub-klub sepak bola favorit kita, membangun gedung dan pulau paling indah di muka bumi. Kita tahu mesjid-mesjid di Iran bersepuh emas murni, dan para konglomerat Arab menikmati hidup di atas kapal-kapal pesiar. Seandainya kita menutup mata dari kenyataan sejarah, pernah adanya kolonialisasi Perancis dan Inggris di jazirah Arab, sehingga kemudian melahirkan gerakan-gerakan anti-kolonial dan sejenisnya, kita juga luput dari kenyataan bahwa perang ini pun tak akan pernah ada dan penjajahan ini pun tak akan pernah terjadi kalau kaum bani Ismail sendiri yang tidak bersatu. Sunni, Syiah, Pan-Islamisme, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan semua bentuk organisasi dan partai. Kita tahu sejarah tak bisa diingkari. Setiap agama terbelah kepada berbagai mazhab, dan setiap bangsa terpecah kepada berbagai kelompok. Tetapi, apakah, dengan semua ini, kita bisa membenarkan kekerasan dan kezaliman merajalela?

Sekarang, George Bush membiarkan Israel menzalimi kaum perempuan dan anak-anak di Israel. Tidak peduli apapun agama anda yang anut, jika anda merasa sebagai penganut yang taat, kekerasan dalam bentuk apapun dan dengan alasan apapun kepada anak-anak yang tidak berdosa adalah sebuah kezaliman. Kita merasa perlu menghukum para politisi dan serdadu Zionis, tetapi apakah kita dibenarkan untuk membunuh anak-anak Yahudi? Mungkin karena itu Hamas selalu menyerang kota-kota musuh dengan sasaran hanya untuk membunuh tentara Israel. Dalam peperangan Islam sudah jelas melarang menzalimi anak-anak, orang-orang tua, perempuan dan pohon-pohon sekali pun!

Setahu saya, Ali bin Abi Thalib, menantu kesayangan Muhammad bin Abdullah, pernah berkata bahwa barangsiapa yang menzalimi kaum perempuan, maka itu sama artinya menzalimi dunia… Dan, kita tahu, di dalam setiap ajaran agama, ada semacam peringatan bahwa doa orang-orang yang dizalimi akan terkabulkan. (Jangankan pemerintah yang zalim, kita telah melihat banyak kejadian ketika seorang pria membuat istrinya menderita dan menelantarkan anak-anaknya, pria itu lambat laun jatuh dan hidup dalam penyesalan)

Kita tidak tahu doa apakah doa dipanjatkan orang-orang di Persia ketika para pasukan Jengis Khan dan anak cucunya berhasil menghancurkan negeri mereka. Kita tidak tahu doa apakah yang dipanjatkan oleh orang-orang di dalam kamp-kamp penyiksaan ketika Adolf Hitler menggiring mereka ke sana seperti domba-domba sembelihan. Kita bahkan tidak tahu doa anak-anak Palestina sekarang.

Tetapi, kita tahu, setelah menaklukkan Baghdad, dinasti Hulagu Khan bukannya berhasil men”Syaman”kan orang-orang Persia, malah sebaliknya mereka-lah yang di-Islam-kan. Keturunan mereka justru memulihkan kejayaan peradaban Islam.

Kita juga tahu, setelah berjaya membantai jutaan orang Yahudi di Eropa, Adolf Hitler malah gagal berdiri kokoh di Eropa. Nazi malah dibenci. Orang-orang Jerman, Austria, Polandia dan sekitarnya justru memiliki alasan kuat untuk mendukung orang-orang Yahudi, menekan anti-Semitisme, dan menganggap Holocaust adalah sebuah fakta sejarah yang tak bisa dikutak-katik sama sekali.

Sekarang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Bush, pada keturunannya, atau pada nasib bangsa Amerika yang sekarang mulai terpuruk oleh krisis ekonomi.

Saya mendukung boikot produk-produk AS dan sekutunya yang mendukung Israel. Kita masih bisa memakai produk-produk buatan dalam negeri ataupun buatan Asia yang kelak akan membuat kita tidak tergantung lagi secara ekonomi dengan AS dan menyebabkan ia tidak menjadi satu-satunya kekuatan dunia. Kita tahu bahwa bersahabat dengan pembunuh bisa menyebabkan kita seperti seorang pembunuh pula. Karena itu, sadarkanlah para pembunuh ini dengan tidak memberi mereka uang untuk membunuh. Biarkanlah ia miskin dan menderita karena tidak bisa membunuh. Kalau kita terus membiarkannya membunuh, bukankah kita sama kejinya dengan ia? Kecuali pembunuh ini tidak bertaubat, dapatkah kita meneruskan persahabatan kita?

Tetapi, saya percaya kepada kekuatan doa. Mengapa, kita sebagai orang yang mewakili bangsa yang dizalimi, tidak berdoa supaya nasib peradaban kita kelak seperti pada masa keturunan Hulagu Khan? Sebuah doa yang baik bagi seluruh alam.

Jengis Khan dan Adolf Hitler telah menodai sejarah, tetapi noda tersebut senantiasa jelas dan tak terhapuskan sehingga bisa terus-menerus memberi pelajaran kepada kita. Barangkali demikian juga dengan noda yang ditorehkan George Bush. Percayalah, orang-orang yang dizalimi-lah yang selalu mendapat kemenangan dalam sejarah peperangan. al-Qur’an dan mungkin juga kitab-kitab suci lain telah mengatakan kepada kita bahwa peristiwa-peristiwa sejarah adalah bahan pelajaran berharga bagi manusia, dan tak akan ada yang dapat mengubah sejarah kecuali Tuhan sendiri, maka kita bisa bersikap optimis sekaligus positif dalam menyikapi hal ini.

1. “Manusia belajar sejarah, tetapi tidak belajar dari sejarah” kata Kuntowijoyo. Apapun tafsir dan analisis dari sebuah peristiwa sejarah, kita bisa mengambil kesimpulan kita sendiri mengapa peristiwa tersebut sampai terjadi dan bagaimana dampaknya kepada manusia.
2. Bangsa-bangsa lahir dan hancur, satu mati tumbuh seribu, semuanya mengalami peristiwa-peristiwa yang sepola, semuanya itu seperti ungkapan “sejarah berulang.” Sebuah kutipan berbahasa liar dari sebuah film yang cukup mewakili kita adalah sejarah sebenarnya hanyalah rentetan peristiwa setelah peristiwa sebelumnya. Karena manusia tidak belajar dari sejarah, maka peristiwa yang mirip pun terulang kembali.
3. Jika kita bisa melihat segala masalah dari segala sudut pandang dan tidak hanya merasa diri yang paling benar dan paling baik, kita pasti akan menemukan jalan keluar. Dari semua perbedaan yang ada di antara semua manusia, kita sebenarnya sadar bahwa kita memiliki persamaan. Hanya saja kita dibutakan, ditulikan dan dilumpuhkan oleh nafsu dan kebebalan keji.

Semoga, di balik cobaan ini, kita bisa menemukan pencerahan. Semoga, di balik cobaan ini, kita bisa mensyukuri nikmat perdamaian dan menghargainya dengan terus berusaha memeliharanya. Bersyukur, berlapang dada dan welas asih adalah sedikit dari budi pekerti yang paling berat untuk dipertahankan dan diwariskan kepada anak-anak kita. Kita yakin Tuhan Maha Mendengar dan Memenuhi janji, karenanya mari kita berdoa dengan tulus dan berusaha sesuai kemampuan kita masing-masing.

(Untuk Melika Ayaza dan Altantuya Feyyaza – Doa dari arti tersirat nama kalian, Pemimpin bagi orang-orang tertindas, yang taat kepada Tuhan; Orang yang memberi pencerahan yang akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan) .

* (quoted from “White Lion’s”)

Leave a Reply