Menjadi Ibu

January 17th, 2008 by gohchenchensetiawan

IMD atau  Inisiasi Dini Menyusui Air Susu Ibu (Breast-feeding Early Initiation) dan Rawat Gabung (mother and baby in one room) di Hospital sewaktu melahirkan adalah sesuatu yang sangat indah.

Pada waktu saya melahirkan bayi pertama saya tiga tahun lalu, inisiasi dini belum dikenal, tetapi hospital tempat saya melahirkan sudah menerapkan cara yg mirip, yaitu bayiku yang lahir langsung ditempelkan ke dadaku oleh para perawat selama beberapa detik untuk mengenal puting susu ibunya. Hanya saja sayangnya saya tidak memilih rawat gabung karena saya belum mengerti.

Saya memutuskan untuk rawat gabung dan IMD untuk anak kedua saya dan ternyata manfaatnya luar biasa besar.Alhamdulillah bayi saya sama sekali belum pernah minum susu formula sampai sekarang.

Putri pertama saya Melika Ayaza atau Ai Ai sudah tidak menyusui saya sejak berumur sebelas bulan gara-gara saya berpuasa. Belajar dari pengalaman itu, saya bertekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan walaupun nanti saya akan bekerja kembali separuh waktu. Saya amat terkesan pada sahabat saya Wiwit yang memberikan ASI sampai sekarang kepada putranya Ahmad, 1 thn, dan tidak memperkenalkannya susu formula. Tetapi, kalau  masalah susu formula sih saya bukan fanatik yang anti susu formula, bagaimana pun juga nanti kalau mendapat makanan pendamping ASI kan juga ada makanan yang bisa memakai bahan dasar susu formula. Dulu saya biasa memberikan Ai Ai makanan yang saya buat sendiri, tetapi saya juga sering memberikan makanan siap saji.

Putri kedua saya Altantuya Feyyaza atau Fei Fei sekarang sudah berumur 2 bulan. Kakaknya lahir pada 13 Nov 2004, dan dia sendiri lahir pada 16 Nov 2007.

Memberikan nama kepada anak memang ada sukarnya dan ada mudahnya. Kami terbiasa meminta tolong Ayahanda kami, Abdul Hadi WM yang luas wawasan dan pengetahuan bahasanya.

Kami tidak percaya kata-kata Shakespeare, “Apalah artinya sebuah nama.”

Tetapi, kami yakin nama memang mengandung doa. Maka penting memberikan nama yang baik kepada anak kita sebagaimana pesan Nabi.

Contohnya saja Melika Ayaza. Melika itu kan artinya Ratu. Kami berharap dia bisa menjadi pemimpin. Nah sekarang terlihat bagaimana sifat dominan dan pengaturnya Ai Ai. Nama panggilaannya pun saya cari yang bermakna, Ai saya ambil dari bahasa Mandarin yang artinya cinta.

Begitupula Fei Fei, saya cari yang memiliki makna bagus, tetapi paduan namanya tetap berirama, dan yang pasti unik supaya dia kelak merasa dihargai karena nama pemberian ayah dan ibunya unik dan istimewa

Menjadi Ibu itu indah sekali. Walaupun penat, tetapi tiada dua rasa bahagianya….

(Malah terkadang lebih indah menjadi ibu daripada istri, he…he…he…)

 

 

mastera

September 7th, 2006 by gohchenchensetiawan

Mastera agustus 2006 adalah pengalaman paling indah dan berharga,
aku semakin terpacu untuk menjadi novelis,
selalu aku katakan dalam diriku, apa aku mampu?
sudah ada karya, tapi belum kusunting dan belum berani kuserahkan ke penerbit,

kak zati dengan 5 orang anaknya yang selalu menginspirasiku,
sulaiman yang selalu memberi komentar,
rafi yang selalu menyarankan membaca buku ini dan itu,
puan aisah murad yang selalu pandai memberi kritik, sekaligus pujian,
om budi darma, putu wijaya dan ahmad tohari yang selalu menyemangatiku,
saifur rahman yang keren banget tulisan-tulisan kritik sastranya,
andrei aksana yang populer banget,
ernawati teman sekamarku yang asyik banget - sejiwa dan sepemikiran,
dirman adikku yang selalu memberiku semangat,
abang jaya ramba yang penuh disiplin, 1 hari 1 cerpen!
abang alias yang baik hati
salina dan marwati yang baik hati,
marwati alias aleya anisa yang bagi aku buku,
salihin dan ustad zaid yang penuh petuah,
para pembimbing lain, awalnya sebel juga sama haji pengiran metusin, tapi ternyata aku sekarang kangen sama dia, yg dari brunei aku kurang akrab sih, nggak bisa sekelompok
pokoknya mereka seru-seru,
asyik-asyik,
kapan aku bisa lagi ketemu orang-orang seperti itu?

Tanggapan atas aksi Amina Wadud

April 24th, 2005 by gohchenchensetiawan

TOPIK YANG DIPERDEBATKAN
Jumat, 18 Maret 2005. 100 orang laki-laki dan perempuan
menyelenggarakan ritual agama yang revolusioner di sebuah gereja
Anglikan, The Synod house of The Cathedral of St. John The Divine, di
kota New York, Amerika serikat. Gereja itu menjadi saksi bisu prosesi
ibadah yang dalam Islam dikenal sebagai salat Jumat. Yang bertindak
selaku imam sekaligus khatib salat itu adalah seorang profesor
ternama dari Virginia Commonweath University, Dr. Amina Wadud Muhsin.
Amina dikenal sebagai muslimah feminis Afro-Amerika. Konon kata
berita, motif utama pelaksanaan ibadah unik ini adalah upaya
kesetaraan gender; tema lama yang sampai sekarang masih tetap hangat
diperdebatkan.

Tentu fenomena ini memicu banyak respons dari pihak-pihak yang merasa
gerah dan marah. Ulama sekaligus Grand Syekh al-Azhaz di Mesir,
Muhammad Sayyid al-Thanthawi mengajukan keberatan atas aksi Wadud,
dan diikuti pula oleh ulama-ulama lain. Tapi bagi mereka yang
sependapat dengan Amina, langkah serupa mungkin tak lama lagi akan
diikuti.

Secara pribadi, saya pernah berbincang-bincang dengan Dr. Amina dalam
sebuah workshop di Virginia, setahun yang lalu. Dari situ saya punya
kesan pribadi. Dilihat dari fisik dan tutur kata, orang yang sempat
bertatap muka dengannya akan yakin bahwa beliau merupakan salah satu
prototipe muslimah dengan unsur feminitas yang sangat teruji.
Kedalaman dan kegetolan beliau dalam menimba pengetahuan
agama—khususnya menyangkut bidang tafsir—sudah tidak disangsikan lagi.

Sebagai feminis muslimah yang sejati, Amina dengan penuh kesadaran
selalu mencoba mendobrak dominasi laki-laki dalam segala hal yang
menyangkut Islam; agama yang konon membawa misi keadilan dan
kesetaraan. Dobarakan itu pertama-tama ditujukan pada bidang tafsir
dan fikih yang selama ini diyakini telah memberikan porsi begitu
besar pada suara kaum laki-laki. Sementara untuk suara kaum
perempuan, kalaupun ada, jelas tidak sebanding dan nyaris tak
terdengar gaungnya.

Kuatnya kesan dominasi budaya patriarkhi yang melekat pada berbagai
khazanah ilmu-ilmu keislaman (khususnya tafsir dan fikih) telah
menginspirasikan Amina untuk berpendapat bahwa obyektivitas sebuah
metode penafsiran tidak pernah bisa mencapai level yang absolut.
Subyektivitas seorang mufassir (baca: laki-laki) selalu ada dan tak
jarang lebih dominan di dalam muatan tafsir atau fikihnya.

Diakui atau tidak, fakta membuktikan bahwa kewenangan dalam
menafsirkan teks-teks suci pada tataran praksis secara eksklusif
dikuasai oleh kaum laki-laki. Maka wajar biala ada semacam
absolutisme ijtihad di sini. Secara logis dan naluriah pula,
kenyataan ini ikut menginfiltasi sejumlah teks yang sedianya
diperuntukkan bagi feminitas wanita dengan susupan-susupan subyektif
dari pandangan maskulin si mufassir. Pengalaman laki-laki kemudian
dipaksakan untuk memahami kewanitaan. Inilah sedikit dari banyak hal
yang ditentang Amina. Baginya, kehangatan dan kelezatan aroma
semangkuk sup akan hilang seketika jika muncul tangan usil yang
sengaja mencampurnya dengan air sabun berbusa.

Celakanya, metode penafsiran semacam ini sudah terlembagakan selama
berabad-abad. Epistemologi yang pada awalnya hanya merupakan sebuah
varian dalam memahami agama, karena begitu mengakarnya, kemudian hari
malah menjadi (dijadikan) kebenaran yang mutlak, bahkan sering
dianggap transenden dengan tingkat-tingkat sakralisasi yang luar
biasa.

Pada titik-titik inilah, generasi muslim sekarang yang sebagian besar
adalah muqallidîn atau pembebek saja, tidak punya kemampuan yang
cukup untuk membedakan antara ‘penafsiran’ dengan ‘yang ditafsiri’
itu sendiri. Produk akal manusia hasil kerja metodologi dan
epistemologi tertentu disejajarkan dengan teks-teks suci yang sering
disebut kalam Ilahi. Adalah sebuah kemustahilan, sampai kapanpun,
jika absolutisme ke-Tuhan-an ataupun segala hal yang memancar atau
beremanasi dari-Nya disetarakan dengan makhluk dalam pelbagai derajat
hirarkinya. Perilaku-perilaku semacam ini dapat saja dikategorikan
sebagai kemusyrikan berpikir, atau yang bisa saya sebut sebagai
syirik intelektual.

Semua produk pemikiran keislaman yang terbukukan dan dipatenkan
hingga kini oleh sebagian orang pada kitab-kitab turats, tak lepas
dari bias masculino-centris. Di era di mana kita hidup dalam era
keterbukaan dan kesetaraan, upaya-upaya untuk meneruskan tradisi
patriarkhi dalam berijtihad masih saja berlangsung. Perjuangan kaum
minoritas yang menuntut hak-hak kaum hawa dalam beragama selalu
dihadang atas nama Tuhan. Sistem penafsiran dan pemahaman teks-teks
keagamaan yang kemudian dikodifikasikan sebagai sistem hukum dan way
of life di kalangan umat Islam terasa begitu gentle. Inilah yang
sering diistilahkan sebagai fikih dan tafsir maskulin atas agama.
Artinya, sudah terjadi semacam operasi kelamin atas ayat-ayat suci.

Patriarkhi Sebagai Warisan Peradaban

Di sini kita akan menengok sejarah dominasi laki-laki dalam lingkup
sosio-historis, dan kemiripan budaya berbagai peradaban. Dari sini
bisa ditelusuri, sejauh mana peradaban Islam sebagai sebuah produk
budaya, mewarisi hal yang sama. Sebagai manusia yang hidup pada abad
dua puluh satu, semua orang di berbagai belahan dunia berhak malu.
Sebab, nenek-moyang mereka (anchestor) ternyata tidak lebih baik dari
pada binatang dalam soal pemuasan nafsu. Banyak praktik-praktik
sejarah yang jelas-jelas tidak berpihak dan membela perempuan dalam
soal ini. Status perempuan sebagai manusia yang lebih dari sebagai
objek pemuasan nafsu seringkali dilucuti dan ditelanjangi.

Berbagai peradaban besar seperti Persia, Eropa, Asia Barat, Athena,
Yunani, Romawi Kuno, hingga kerajaan-kerajaan Islam (ingat bahwa
istilah hareem sangat identik dengan peradaban Islam) yang selama ini
diklaim sebagai peradaban tertinggi, semuanya mengesahkan
praktik-praktik poligini. Saya sengaja tidak memakai istilah
poligami, sebab istilah poligini lebih mewakili ketertindasan
perempuan dibanding poligami yang cakupannya lebih luas dan lebih
umum. Di bidang-bidang kehidupan yang lain pun perempuan tidak punya
peran yang berarti. Satu-satunya peran perempuan yang sering
ditonjolkan secara berlebihan adalah fungsinya sebagai alat
reproduksi sekaligus pemuas syahwat semata. Hanya Cleopatra atau Ratu
Balqis saja yang bisa dijadikan pengecualian dalam konteks ini. Namun
jelas, mereka berdua sama sekali tidak bisa menjadi representasi yang
memuaskan tentang bagaimana sesungguhnya martabat dan posisi wanita
pada zaman dahulu.

Dominasi laki-laki dalam segala hal yang kita dapati pada
peradaban-peradaban tertinggi tersebut menjadi sesuatu yang tak
terbantahkan lagi. Budaya ini kemudian menjadi semacam kemiripan yang
bisa ditemukan di mana-mana. Kemiripan ini, sebagian besar timbul
disebabkan karena adanya semangat untuk mewarisi dan mengimitasi
berbagai aspek kebudayaan dari satu peradaban ke peradaban yang lain.

Contoh yang paling nyata adalah jatuhnya Konstantinopel dibawah
ekspansi Dinasti ‘Utsmani. Saat itu, Sultan Muhammad II (Al-Fatih)
begitu terpesona dengan gemerlap kebudayaan Byzantium. Keterpesonaan
itu kemudian ditindaklanjuti dengan tetap menjaga dan melestarikan
beberapa kebiasaan Kaisar Konstantin. Salah satunya melalui koleksi
dayang atau selir dalam paviliun khusus. Dari sini pulalah, istilah
hareem menjadi sangat populer.

Contoh kecil ini mampu menjadi refleksi sekaligus bukti bahwa sistem
patriarkhi sebagai salah satu aspek budaya sama sekali tidak berakar
pada konsep-konsep agama yang dogmatis. Kemiripan-kemiripan yang
sudah saya singgung di atas, secara gamblang merupakan hasil dari apa
yang sering dinamakan sebagai daya karsa, karya dan cipta manusia
sebagai insan yang berpikir dan bertindak. Adalah sebuah kemustahilan
jika hal ini dianggap merupakan ajaran Tuhan yang turun dari langit.
Dalam hal ini, kita bisa memakai pemahaman terbalik. Logikanya, andai
budaya patriarkhi adalah bagian dari transcendental teachings dan
merupakan sebuah dogma dalam Islam, maka sejarah seharusnya mencatat
lain. Wanita bisa jadi lebih menindas dan dominan ketimbang laki-laki
sebelum Islam datang.

Nah, dalam fase yang lebih belakangan, konstruk budaya yang
patriarkhi tersebut mempunyai cakupan yang semakin luas. Kejayaan
Abassiyah dan Andalusia yang merupakan lahan subur perkembangan
ijtihad-ijtihad di berbagai pemikiran keagamaan, tetap saja
melanggengkan budaya tersebut. Tokoh-tokoh pemikir besar yang sampai
sekarang banyak disebut dan dikutip jasa intelektualnya, jelas-jelas
didominasi nama-nama kaum laki-laki. Suara minor (kaum hawa) nyaris
tidak terdengar.

Gebrakan Amina Wadud

Dr. Amina Wadud Muhsin, dengan segenap keberaniannya mencoba
menggugat dominasi itu. Menggugat bukan berarti mencoba membalikkan
keadaan, melainkan hanya usaha mewujudkan kesetaraan dan memosisikan
keberpihakan Islam dalam soal gender secara proporsional. “Saya hanya
bermaksud membuat interpretasi Alqur’an yang di dalamnya terkandung
pengalaman-pengalaman perempuan, tanpa stereotipe yang telah lama
dibuatkan oleh kerangka interpretasi kaum laki-laki,” tulisanya dalam
sebuah artikel.

Prinsip tersebut dijadikan starting point oleh Dr. Amina dalam
melakukan berbagai kajian keagamaan dalam kapasitasnya sebagai
seorang akademisi. Gebrakan dalam bentuk penyelenggaraan salat Jumat
yang kontroversial itu, dalam konteks ini hanya merupakan sebagian
kecil dari keseluruhan upaya penggugatan itu.

Secara pribadi, saya sendiri nyaris yakin bahwa kisah Ummu Waraqah
merupakan dasar pijakan oleh Dr. Amina dalam gebrakannya. Dalam kitab
Bulûghul Marâm karya al-Hâfidz Ibnu Hajar al-Asqalanî diceritakan
bahwa Nabi telah memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam salat
bagi penghuni rumahnya. Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud, dan Ibnu
Khuzaimah menegaskan bahwa statusnya adalah sahih. Dalam bagian lain
pada kitab yang sama juga disebutkan soal larangan perempuan menjadi
imam salat. Hadis itu diriwayatkan Ibnu Majah dari Jabir. Hanya saja,
status hadis kedua ini dinyatakan wâhin atau dla’îf.

Kasus salah Jumat Dr. Amina telah memunculkan guncangan besar dalam
jagat keagamaan. Semua orang boleh menganggapnya berlebihan, tapi
Amina tetaplah orang dengan pendirian yang kokoh. Ia ingin
menunjukkan pada dunia dengan cara menyentaknya, bahwa suara
perempuan pun seharusnya didengar dan diperhatikan. Dengan
kontroversi dan derasnya respons yang muncul dari kasus tersebut,
mungkin dia berharap diskusi-diskusi soal hak-hak kaum perempuan bisa
dibahas secara luas dan mendalam oleh para pemikir dan pihak-pihak
yang mau membuka mata dan hatinya. Ini bukanlah bid’ah belaka,
melainkan sebuah upaya cerdas untuk mengembalikan kesucian agama dari
jamahan tangan-tangan yang kurang bertanggung jawab dalam soal agama.

Untuk itu, keberanian Bu Amina semestinya kita apresiasi dengan baik.
Sudah saatnya kita mengembalikan Islam sebagai agama pembebas, agama
keadilan, dan agama yang menghormati manusia sebagai manusia.

TANGGAPAN GOH CHEN CHEN
Wah menarik sekali berita mengenai aksi Amina Wadud yang saya anggap amat heroik ini. Bid’ah itu sebenarnya apa sih? Jangan-jangan semua yang kita lakukan sekarang ini bid’ah. Menonton ceramah di televisi, mendengar nasyid bernada rock n roll, membaca komik Islami (seperti terbitan Mizan), makan fast food tanpa lupa membaca bismillah, main playstation sambil menunggu bedug, memakai kacamata untuk mengaji, shalat dengan mukenah warna warni, memakai sarung tenun mahal, naik haji sambil jalan-jalan wisata sejarah nabi, dan sebagainya. Sebagai orang awam tafsir agama, terus terang saya mengira pemahaman sederhana mengenai bid’ah adalah ibadah yang tidak dilakukan oleh Nabi (dan tidak ada dalam Alquran maupun hadis), tetapi kita melakukannya dan kita bilang itu ibadah. Nah, kalo begitu, selama ini saya banyak melakukan bid’ah, ha ha…ha..ha…

Kalau menurut saya apa yang dilakukan oleh Amina Wadud seharusnya patut dipuji dan jangan langsung dinilai yang tidak-tidak. Saya sering berpikir sekiranya dalam satu rumah, yang ada cuma saya (perempuan), kebetulan suami saya tidak ada di rumah, lalu yang ada cuma pembantu saya (perempuan), anak perempuan saya yang masih berumur 12 tahun, dan anak laki-laki saya yang baru berumur 10 tahun dan 6 tahun, saya rasa khan nggak mungkin anak laki-laki saya jadi imam sholat. Apalagi kalau contohnya seperti ini, dari seluruh penduduk kampung yang tadinya kafir terus baru masuk Islam, dan satu-satunya yang mengerti bacaan Alqur’an, dsb ternyata cuma seorang perempuan, apakah kita akan memaksakan perempuan itu diimami oleh laki-laki yang baru hafal al-fatihah saja? Ah, kebetulan sekali saya tidak terlalu pandai mengaji, jadi ya terserahlah siapa imam saya, yang penting lebih fasih ngaji daripada saya. Nah, kalau Amina Wadud lebih hafiz dan ahli ngaji daripada Erwin Fansori atau Hasan Surahman, terus dia jadi imam sholat mereka berdua, ya saya kira sudah sepantasnyalah kalau memang Erwin dan Hasan merasa legawa, ikhlas.

Kecuali kalau yang dimaksudkan tidak bisa menjadi imam salat karena haid, ya iyalah. Sebenarnya kan (menurut saya) Allah bukan bermaksud melarang perempuan shalat sewaktu haid karena adanya darah kotor dan semacamnya, tetapi maksudnya adalah Allah sayang kepada perempuan, karena sewaktu haid kan perempuan sering lemas, sakit perut dsb. Nah, memang benar, laki-laki mana bisa memahami hal ini karena laki-laki kan nggak akan pernah haid. Kalau laki-laki berpikir larangan ini karena darah haid wanita kotor, saya kira karena laki-laki mengira Tuhan berpikir seperti laki-laki. Tuhan kan tidak bergender, tidak berjenis kelamin. Memang zaman dahulu ada masalah kebersihan, darah bisa berceceran kemana-mana, sekarang kan sudah tidak lagi. Aduh maaf ya jadi agak jorok, tapi ini penting saya ungkapkan. Nah, meskipun sudah ada pembalut dan tampon, juga obat-obatan penambah darah dsb, tapi kan ternyata tetap saja perempuan yang sedang haid perlu istirahat lebih banyak untuk memulihkan tenaga. Jadi Allah itu memang Maha Adil lho dengan pengecualian ini.

Saya pernah membaca keberatan teman-teman di kampus, mungkin dari kalangan HT, atau NII, saya tidak pasti, mengenai apa salahnya dengan interpretasi laki-laki terhadap tafsir AlQur’an. Argumen mereka malah membuat hati saya merasa lho kok kayaknya Tuhan jadi nggak adil kalau begitu. Masyarakat yang patriarkis itu kan terlihat jelas dengan pemberian nama. Kita tidak menamakan Fatimah binti Khadijah, tapi Fatimah binti Muhammad kan? Atau kalau di Barat dulu, kalau bapaknya Smith, ya anak-anaknya Smith, meskipun ibunya bukan Smith. Nah, dalam tradisi Kristen kan selama ini Yesus Anak Yusuf, sedangkan dalam tradisi Islam, Isa binti Maryam, wah itu kan tanda-tandanya Allah mengingatkan kepada kita tentang keadilan-Nya. Di samping ayat-ayat mengenai Isa, dalam AlQuran digambarkan tentang kesalehan Maryam, “bagaikan” atau memang nabi? Dari semua contoh pemimpin/raja dalam AlQuran, satu-satunya contoh raja biasa yang baik kan cuma Bilqis, perempuan, Allah meyakinkan kepada kita negerinya yang baldatun thayibatun ghafur!.

Sebagai perempuan pun, saya harus akui kalau menafsir sesuatu berdasarkan pengalaman sebagai perempuan. Mengapa Allah mewajibkan menutup aurat perempuan lebih banyak dari laki-laki? Hmm, karena perempuan itu kan paling suka menjaga kecantikannya, nah dengan menutup aurat, kecantikannya lebih terawat, terjaga. Tapi kan kalau laki-laki yang menafsirkan, biasanya karena supaya tidak menggoda nafsu birahi laki-laki (ha..ha..ngaku nih para penafsir laki-laki) atau supaya menjaga kehormatan diri si perempuan (maksudnya supaya laki-laki lain nggak melihat istriku, “gue cemburu ntar”). Lalu, juga tafsir poligami (poligini). Ah, kalau saya sih terserah saja. Ada perempuan kok yang mau dimadu, tapi lebih banyak lagi tidak. Kalau memang sudah fitrah laki-laki punya banyak istri, lho kok Adam manusia pertama cuma didamping seorang Hawa? Lho kok Muhammad selama lebih dari separuh dakwahnya cuma didampingi seorang Khadijah? Lho kok Allah “marah” pada Daud yang ingin menggenapi jumlah istrinya jadi 100? Lho kok Ibrahim baru kawin lagi setelah direstui Sarah? Lho kok Zakaria tetap bertahan dengan satu istrinya dan tetap berdoa minta anak? Kenapa ya kita tidak melihat semua ini sebagai suatu kesatuan yang penting. Ada yang bilang poligini akan membantu gadis-gadis perawan tua yang ingin menikah, karena jumlah perbandingan laki-laki dan perempuan tidak seimbang, kaum laki-laki ini menyeru kepada kaum wanita, hei kasihan tuh temenmu belum punya suami, so kenapa mas? Sekarang banyak juga perempuan nggak berminat menikah. Ada beberapa daerah pedalaman dulu suku primitifnya menerapkan poliandri karena kebanyakan laki-laki. Itu kan kenyataan antropologis yang nggak bisa diganggu gugat. Sekarang kaum feminis menggugat poliandri juga boleh dong, kan sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, bisa mengetahui anak itu anak siapa dari DNAnya. Haha..ha…kalau alasannya kayak gini jadi nggak bisa menyesuaikan dengan kenyataan ilmiah sekarang. Laki-laki nggak perlu menikahi banyak-banyak istri kalau cuman itu alasannya.Ada bank sperma gitu lho, bisa 21 tahun tahannya. Kalau jadi istri kayaknya para perempuan feminis ini “agak males” tapi kalau jadi ibu mereka senang sekali, cukup dengan beli sperma di bank itu. Domba klon Dolly saja tidak butuh sperma pejantan, nah jangan-jangan nanti manusia juga begitu? Apakah ini pertanda bahwa kisah Maryam itu pertanda bahwa kelahiran Isa bukan pelanggaran sunatullah, melainkan memang Allah punya maksud-maksud tertentu, wallahualam.
Hei, ada juga yang bilang poligini itu untuk ibadah, untuk menjaga kesucian laki-laki yang nafsunya besar, lebih baik menikah daripada sama pelacur. Lho, tapi pelacuran tetap laku, kenapa? Karena sama pelacur kan tidak ada tetek bengek kewajiban dan tanggungjawab, jadi ya sama saja bohong kalau memang dasarnya playboy, ya mau dibolehkan menikahi 100 istri juga nggak menjaminlah, karena laki-laki ini nggak akan kuat menikahi dan menanggungjawabi 100 istri kecuali kalau bukan seperti Si Sultan.Nah yang pasti, semua tafsir pembolehan ini kan laki-laki yang buat, secara nggak langsung mereka ngerasa “Gue nggak tahan kalau cuman satu”. Kalau perempuan ulama biasanya memikirkan masa depan anak-anaknya, perasaan terdalam para wanita sesamanya, dsb.

Kalau mau bener-bener ikut Nabi, punya lebih dari 4 istri (mungkinkah Allah sengaja nggak menyebut ‘nikahilah sembilan, delapan, tujuh, dsb.. karena ayatnya bakal jadi kepanjangan?), semuanya harus lebih tua dari umur anda (wahai laki-laki) malahan umurnya 15 tahun lebih tua dari anda (seperti khadijah) dan semuanya sudah janda punya anak, kecuali cuman satu istri anda yang gadis, nah, anda jangan pake jins butut anda lagi pake sorban dan jubah di atas lutut, jahit sendiri baju anda yang robek, jangan nonton TV dan mendengar radio lebih baik ngaji semalaman dan pagi siangnya kerja cari duit, puasa, jalan kaki atau naik unta/kuda, jangan naik angkot apalagi pesawat, makan sedikit mungkin cuma sebiji kurma cukup buat buka puasa, jangan marah sama anak kecil, puaskanlah batin semua istri anda seperti Nabi, tapi nggak lupa sholat malam banyak2, dst…

Di Arab Saudi ada peraturan perempuan tidak boleh menyupir mobil. Apakah itu masuk akal, adakah dalam hati nurani kita akan berkata itu adil? Dulu ada seorang teman lelaki dari harokah mana saya tidak tahu, tapi dia melarang saya mencalonkan diri sebagai pemimpin sebuah kepanitiaan, dan saya merasa sangat tidak adil akan keinginannya itu. Apa kepentingannya, dan toh ia pun tidak bisa menjadi pemimpin kepanitiaan itu karena ia bukan dari fakultas yang sama dengan saya. Juga pernah dalam suatu harokah yang saya datangi dengan perasaan heran saya mendengar kata-kata sang ustadz bahwa iman perempuan itu kan nggak sebaik iman laki-laki karena perempuan haid, dan sewaktu haid nggak sholat. Aneh banget, kontradiktif sekali dengan ajaran Allah dalam AlQura’an, iya bukan? Di neraka ada banyak perempuan, katanya, tapi kan nggak ada hadis (ada nggakya?) yang bilang di surga ada lebih banyak laki-laki? Ge-er banget laki-laki kalau begitu. Jelas-jelas ada ayat bahwa Allah nggak memandang jenis kelamin dan suku bangsa, cuma memandang ketakwaan seseorang kok.

Konsep adil itu kan nggak bisa serta-merta kita bilang adil itu hanya milik Allah, tapi adil itu benar-benar harus kita rasakan. Sepertinya kalau kita serahkan definisi hakiki adil itu kepada Allah, kita tidak akan tahu adil itu seperti apa, kita meraba-raba, dan ya sudah, nrimo saja dengan keadaan sekarang. Apakah kita akan terus nrimo saja? Konsep dasarnya adalah Tuhan Maha Adil, yang tidak berbuat adil itu manusia karena kita cuman mendapat bagian kecil dari-Nya.Apa sih susahnya menerima kenyataan kaum perempuan bisa menjadi ulama dan mentafsir sama ahlinya dengan kaum laki-laki, begitupula imam?

Gini ajalah, selama nggak ada ayat dan hadis sahih yang berkata secara jelas dan mantap (tanpa pake interpretasi segala), “Perempuan dilarang menjadi imam shalat” atau “Perempuan dilarang menjadi pemimpin negara” atau “Laki-laki boleh menikah dengan empat istri” tanpa embel-embel “sebaiknya cuma satu karena adil itu susah,” maka ya sudahlah. Apakah para imam perempuan ini menafikan Allah? Menyekutukan Allah? Mereka masih kan bersandar pada tauhid sebagai inti agama Islam? Mereka menafikan nabi Muhammadkah? Bagi saya, selama kaum perempuan ulama ini masih sholat, masih tauhid, masih ber”Muhammad”iyah, masih puasa, dan masih naik haji, juga percaya pada 6 hal rukun iman, kita lapangkan dada dan pikiran kita untuk menerima ijtihad mereka dan kalau memang perlu mengkritisinya, tapi jangan melulu karena “taklid buta” “tradisi” dsb, tapi lihatlah kenyataan sekarang dan lebih banyak manfaatnya kah atau kita merasa mudharat karena kita saja? Benar. Islam adalah agama Pembebas, kalau nggak gitu saya sekarang lebih baik nggak punya agama. Masuk Kristen/Katolik, dogma trinitasnya membingungkan. Masuk Buddha, terlalu banyak menyuruh meninggalkan dunia. Masuk Hindu kebanyakan dewa yang harus disembah. Masuk Yahudi, aku terlahir bukan Ibrani. Masuk Shinto, cuma ada di Jepang. Masuk Sikh, harus kawin sesama orang Sikh. Masa’ aku harus masuk agama2 baru yang nggak jelas, misalnya bahaisme yang nyampurin semua agama, atau ikut Lia Aminuddin? Ha ha..ha…lebih nggak jelas lagi konsepnya. Nah, Islam kan yang paling mudah, paling masuk akal, paling ekonomis, paling efisien, paling lengkap dan jelas.

Wassalam.
Penulis sedang berjalan menuju tangga spiritual yang sedang coba dipahaminya.

orang cina yg dimelayukan

April 24th, 2005 by gohchenchensetiawan

Orang-orang Cina Yang Di-MELAYU-kan dan Di-JAWA-kan dalam sejarah.

Baru-baru ini saya membaca di suatu situs tentang asal-usul Hang Tuah dan kawan-kawannya Hang Lekir, Hang Lekiu, Hang Kasturi dan Hang Jebat. Ternyata mereka ini tidak lain tidak bukan kemungkinan sekali adalah keturunan Tionghoa atau Cina, meskipun masih ada kesangsian mengenai Hang Kasturi karena dari sudut nama agak sulit memastikan.
Kalau teman-teman masih ingat kisah Putri Hang Li Po yang dipersunting Sultan Melaka, maka kita dapat menerima alasan dugaan tersebut. Jadi, nama klan Hang memang merupakan salah satu klan Cina yang mula-mula datang ke kepulauan Melayu, di samping Tan (mungkin akan teringat kisah Cau Bau Kan yang dengan antusiasnya menggambarkan “seh” ini sebagai yang terbanyak di kepulauan Nusantara). Hang Tuah=Hang Tu Ah, Hang Lekir= Hang Le Ker, Hang Lekiu=Hang Le Kiew, dan Hang Jebat=Hang Je Fatt.
Qurtuby yang tahun lalu (2004) menerbitkan buku tentang hubungan Islam-Jawa-Cina sampai abad ke-15 M, juga dengan antusias menggambarkan orang-orang yang kita anggap selama ini sebagai pahlawan-pahlawan Jawa maupun para wali Jawa, ternyata besar kemungkinan juga sebenarnya keturunan Cina atau Tionghoa (dua istilah ini menurut saya sama saja). Yang sudah pasti adalah Raden Patah yang berIBUkan Tionghoa. Dia merupakan Raja Demak pertama, dan dengan begitu meyakinkan Qurtuby menyatakan bahwa Dinasti Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa merupakan Dinasti Cina, Rezim Tionghoa-Muslim di Jawa, karena dikuasai oleh kaum Tionghoa-Muslim, baik peranakan dari darah ayah, maupun dari darah ibu.
Sebut saja beberapa nama, antara lain adalah Sunan Kalijaga, Adipati Yunus (yang lebih dikenal dalam panggilan orang Portugisnya, Dipati Unus), keturunan Sunan Gunung Jati (karena dia menikah dengan muslimah Tionghoa), serta beberapa sunan lainnya, juga para arsitek, para panglima dan laskar, para muballigh, dan masih banyak lain.
Hal ini didasari oleh fakta tentang kedatangan Laksamana Cheng Ho yang notebene pemeluk Islam, dan diyakini diam-diam mempunyai misi lain dalam pelayarannya yaitu menyebarkan ajaran Islam ke Nusantara, sehingga meninggalkan kaum pengikutnya untuk berdakwah di Nusantara.
Bahkan, dalam praktek selanjutnya, orang-orang Melayu dan Jawa ini meneruskan “tradisi” me-Melayu-kan maupun men-Jawa-kan para perantau Cina yang datang, bermukim dan beranak-pinak di negeri mereka, antara lain di Indonesia dulu pada masa ORBA jika mau sah menjadi warganegara maka nama Cina-nya di-Indonesiakan. Misalnya, marga Chan jadi Chandrawijaya, marga Tan jadi Tanuwijaya, marga Lim jadi Salim, dsb. Sedangkan setahu saya kalau di Malaysia orang-orang Cina yang tadinya memeluk Konghucu atau Kristen, jika masuk Islam, dianggap masuk Melayu, biasanya lalu memakai nama Islam bercorak Melayu, dan sepertinya kehilangan sudah akar budaya Cinanya karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Padahal, jika mau menengok lebih jauh lagi, maka nenek moyang bangsa-bangsa di Nusantara, terutama Melayu, Jawa, Sunda, dsb, tidak lain dan tidak bukan sama dengan nenek moyang bangsa-bangsa Cina. Karena nenek moyang bangsa-bangsa di Nusantara ini merupakan perkawinan antara kaum imigran terawal dari benua Cina dengan kaum penduduk lokal yang tadinya kalau tidak Melanesia ya Austronesia. Karena itu sebagian besar penduduk di Nusantara masih disebut sebagai ras Mongoloid.
Oleh karena itu, jika orang-orang Melayu merasa kecewa karena sudah kehilangan pahlawan Melayu jati-nya, dan orang-orang Jawa merasa kecewa karena ternyata raja-raja Islam mereka tidak murni Jawa, dan apalagi ketidakmurnian itu berasal dari darah Cina, yang mau diakui atau tidak sedikit sebanyak tidak disukai, (mereka ini lebih menyukai jika darah campuran itu dari Arab, dari keturunan nabi Muhammad), maka mereka yang kecewa itu sama sekali lupa ingatan, lupa sejarah mereka sebenarnya.
Baru-baru di suatu harian nasional saya membaca tentang proyek mencari asal-usul genetika kita, jadi apabila kita menyerahkan sampel DNA kita kepada mereka maka akan dicarikan nenek moyang kita sebenarnya ras apa dan aslinya berada di mana. Nah, jangan-jangan semua orang Melayu dan Jawa ini nenek moyangnya juga keturunan homo sapien pertama di Cina (selain homo sapien pertama yang di Jawa, sedangkan yang di Melayu belum pernah ditemukan).
Kebetulan sekali saya merasa tertarik karena ayah saya adalah peranakan Tionghoa atau Cina, dan jelas-jelas kakek saya yang Tionghoa-muslim telah di-Jawa-kan, atau lebih tepatnya lagi di-Madura-kan, sedangkan ibu saya selama ini saya duga kakeknya merupakan cicit moyang dari kaum pengikut Cheng Ho di Tuban yang untuk kemudian di-Jawa-kan. Dan kemudian pula, di Malaysia, saya di-Melayu-kan, meskipun orangtua saya telah meng-India-kan identitas saya dalam akta kelahiran. Untuk sementara waktu ini, suami saya yang mengaku murni Jawa, ternyata sedang di-Cina-kan dalam pekerjaannya, karena bossnya memang keturunan Tionghoa. Ayah saya berusaha men-Cina-kan kembali adik bungsu saya dengan menyekolahkannya ke sekolah berbahasa Mandarin dari sekolah dasar, dan hal itu nampaknya agak berhasil. Oleh karena itu, pembahasan ini sangat menarik perhatian saya.
Karena, sebenarnya saya sudah bosan ditanyakan saya ini suku bangsa atau etnis apa. Saya lebih suka mengatakan saya ini orang Indonesia, beres persoalannya menurut saya. Kalau saya terangkan saya ini berdarah Jawa, Madura, Cina, juga Timur Tengah, seperti nya ribet atau rumit sekali. Pada waktu disuruh memilih Indonesia Asli atau Indonesia Keturunan Mongoloid, saya jadi tambah bingung, saya dua-duanya kok. Bapak dan ibu saya, juga kakek dan nenek saya kan tidak ada yang Warga negara Malaysia, Belanda atau Hong Kong. Tapi memang benar juga mereka itu nenek moyangnya dari Cina sana.
Barangkali suatu saat nanti tidak ada masalah bagi orang-orang Cina yang di-Melayu-kan dan di-Jawa-kan sekarang ini, seperti Hang Tuah dan Raden Patah yang akhirnya diakui dan tercatat namanya dalam sejarah bangsa-bangsa di Nusantara. Dan untuk itu, sadarlah wahai bangsa Melayu dan Jawa, tak ada yang murni dan jati dalam darah yang mengalir padamu. Dan nenek moyang kita telah membuktikan keharmonisan dan kedamaian yang tercipta adalah justru dengan membiarkan tubuh-tubuh serta jiwa-jiwa mereka dialiri darah-darah asing, sehingga terwujudlah masyarakat yang benar-benar majmuk dan plural, dan saling dapat menghargai keunikan masing-masing. Wallahualam.

(Penulis bernama Cina: Goh Chen Chen, dengan nama pinyin: Wu Zhen Zhen, bernama panggilan Melayu: Intan, bernama lahir India Sansekerta: Gayatri, bernama lahir kedua India yang di-Jawa-kan: Wedotami. Ibu dari seorang putri berumur 5 bulan, yang bernama panggilan Cina (Mandarin): Ai Ai, bernama lahir Arab yang di-Persia-kan: Melika, dan bernama lahir kedua Turki: Ayaza. Istri dari manajer yang bernama lahir Yunani yang di-Jawa-kan: Agus, dan bernama lahir kedua Sansekerta yang di-Jawa-kan: Setiawan.HIDUP PLURALISME!)